Selasa 24 Sep 2019 23:00 WIB

Perpustakaan di Masjid

Sayangnya, kini aktivitas keilmuan yang berpusat di masjid menjadi semakin kering.

Rep: Mozaik Republika/ Red: Agung Sasongko
Perpustakaan Masjid Istiqlal. Pengunjung membaca buku di Perpustakaan Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (4/3).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Perpustakaan Masjid Istiqlal. Pengunjung membaca buku di Perpustakaan Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (4/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai pusat kegiatan umat, masjid memiliki tiga peran penting yakni sebagai tempat aktivitas sosial, politik dan pendidikan. Guna menopang ketiga peran penting itu, pada era kejayaan Islam masjid telah dilengkapi dengan perpustakaan.

Dengan koleksi buku yang terbilang melimpah. Seperti halnya dengan sekolah, masjid juga tak bisa dipisahkan dari keberadaan perpustakaan. Aktivitas pendidikan di masjid tentu membutuhkan banyak buku sebagai referensi. Hal ini mendorong masyarakat di dunia Islam secara rela menyumbangkan dan mewakafkan koleksi buku yang dimilikinya disimpan di perpustakaan masjid.

Baca Juga

Masjid menjadi tempat yang aman bagi masyarakat Muslim, pada zaman itu. Dengan menuimpan bukunya di masjid, maka buku yang mereka sumbangkan itu akan dirawat dan digunakan para pelajar yang menimba ilmu di masjid. Sehingga, ilmu yang terkandung dalam sebuah buku bisa menyebar luas. Tak hanya disimpan di rak dan dipenuhi debu.

Menurut R Mackensen dalam buknya  Background of the History of Muslim Libraries Observes para ilmuwan mewariskan koleksi perpustakaan pribadinya kepada masjid agar buku itu tetap terpelihara. Perpustakaan masjid pun memiliki koleksi buku yang lengkap. Ini juga barangkali yang membuat para guru dan murid begitu betah menghabiskan waktunya belajar di masjid.

Sungguh mengagumkan bila kita mengetahui Masjid Sufiyah di Allepo, Suriah, pada era keemasan Islam mampu mengoleksi buku tak kurang dari 10 ribu volume. Pada masa itu, penguasa Aleppo mempelopori gerakan wakaf buku ke perpustakaan masjid. Gerakan yang dipimpin Pangeran Sayf Al-Dawla itu mampu menggerakan ilmuwan dan bangsawan di wilayah itu untuk menyumbangkan koleksi buku-bukunya.

Gerakan wakaf buku ke perpustakaan masjid itu terjadi hampir di seluruh wilayah dunia Islam. Demi pengembangan dan penyebaran ilmu, masyarakat mau menyimpan bukunya di masjid. Umat Islam di era kejayaan begitu cinta dengan ilmu pengetahuan. Ajaran Islam mengajarkan umatnya untuk berpikir dan mencari pengetahuan agar dapat mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Tak heran, jika dalam Alquran kata Ilm (pengetahuan) disebut secara berulang-ulang sebanyak 750 kali. Ini pula yang membuat Rasulullah SAW menyerukan umatnya untuk mencari pengetahuan sejauh dan semampunya. Nabi Muhammad SAW pun mengajak umatnya untuk belajar sepanjang hayat - dari saat dilahirkan hingga meninggal dunia.

Perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW itulah yang dijadikan pegangan para penguasa Muslim untuk mendukung dan menopang pendidikan. Perpustakaan masjid di era keemasan telah menjadi lumbung ilmu yang melecut semangat para pelajar serta ulama dan ilmuwan untuk berlomba-lomba meraih ilmu. Dengan menguasai beragam ilmu pengetahuan itulah, dunia Islam tampil sebagai penguasa dunia selama beberapa abad.

Sayangnya, kini aktivitas keilmuan yang berpusat di masjid menjadi semakin kering. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa aktivitas keilmuan di masjid mampu melahirkan sederet ilmuwan, ulama dan cendekiawan Muslim yang hebat. Yang mampu memberi kontribusi penting bagi peradaban manusia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement