Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Berpuisi Bersama Rumi

Senin 23 Sep 2019 17:00 WIB

Rep: Islam Digest Republika/ Red: Agung Sasongko

jalaluddin rumi

jalaluddin rumi

Foto: turkeyworld
Secara umum, puisi-puisi Rumi biasa dibagi ke dalam beberapa kategori.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ia berkata: "Siapa itu berada di pintu?" Aku berkata: "Hamba sahaya Paduka." Ia berkata: "Kenapa kau ke mari?" Aku berkata: "Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti." Ia berkata: "Berapa lama kau bisa bertahan?" Aku berkata: "Sampai ada panggilan." Aku pun menyatakan cinta, aku
mengambil sumpah bahwa demi cinta, aku telah kehilangan kekuasaan. Ia berkata: "Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan." Aku berkata: "Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku." Ia berkata: "Saksi tidak sah, matamu juling." Aku berkata: "Karena wibawa keadilanmu, mataku terbebas dari dosa." Lukisan Rumi di Persia. Hingga kini, tak ada penyair sufi manapun yang mampu
mengungguli kualitas puisi-puisi sufi karya Rumi.

Baca Juga

Kemampuannya dalam mengungkapkan perasaan lewat puisi mengandung daya yang begitu memikat. Menurut David Fideler, lirik-lirik puisi Rumi yang banyak diliputi rasa cinta yang dalam kepada Tuhan mampu membekukan waktu di sekeliling orang yang membacanya. Siapa pun yang menghayatinya seakan-akan telah keluar dari dirinya dan meninggalkan sifat keduniawian. Tak hanya itu, lirik-lirik puisi sufinya juga mengandung filsafat serta gambaran inti tasawuf yang dianutnya.

Secara umum, puisi-puisi Rumi biasa dibagi ke dalam beberapa kategori. Ada puisi empat baris atau rubayat, enam masnavi, diskursus, surat, syair liris (gazal), serta lainnya. Salah satu karya besar Rumi adalah Masnawiye Masnawiyang terdiri atas
enam volume puisi. Karyanya itu diakui sebagai salah satu karya puisi mistis yang paling fenomenal. Buku itu terdiri atas 10.700 bait syair. Selain itu, karya Rumi lainnya yang terkenal adalah Diwan-e Kabiratau Diwan-e Sams-e Tabrizi. Inilah buku antologi puisi yang didedikasikan untuk sang sahabat dan guru sufinya bernama Syamsuddin.

Inti ajaran tasawuf Rumi tercantum dalam kitab itu. Tasawuf Rumi didasarkan pada paham wahdah al-wujudatau, penyatuan wujud. Meski begitu, konsep wahdah al-wujud Rumi berbeda dengan konsep yang dimiliki Ibnu Arabi. Bagi Rumi, Tuhan adalah wujud yang meliputi.

Selain itu, karya Rumi lainnya adalah Fihi Ma Fihi. Kitab itu merekam 71 pembicaraan dan kuliah yang disampaikan Rumi dalam berbagi kesempatan. Karya itu merupakan kompilasi dari berbagai kesempatan Rumi dalam memberikan ceramah dan kuliah. Tugas pengumpulannya tentu tak dilakukan secara langsung oleh Rumi.

Kitab itu pada 1972 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh AJ Arberry sebagai Diskursus Rumi karyanya yang lain adalah Majalese Sab’a (Tujuh Sesi) yang berisi tujuh ceramah yang disampaikan Rumi dalam tujuh momen berbeda. Selain itu,
karyanya yang lain dikumpulkan dalam Maktubat (Surat). Kitab itu berisi surat-surat yang ditulis Rumi.

Dunia mengenal Rumi bukanlah sekadar seorang penyair besar. Ia juga adalah tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun 1648 M.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA