Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Percik Pemikiran Islam Kiai Asnawi

Ahad 22 Sep 2019 22:22 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Agung Sasongko

[ilustrasi] Sekolompok santri di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur.

[ilustrasi] Sekolompok santri di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur.

Foto: EPA/Fully Handoyo
KHR Asnawi memiliki pemikiran Islam yang tertuang dalam kitab-kitabnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai ulama yang produktif menulis, KHR Asnawi tentu memiliki pemikiran Islam yang tertuang dalam kitab-kitabnya. Pemikiran Islam Kiai Asnawi ini pernah diteliti oleh Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang, Rabith Jihan Amaruli.

Baca Juga

Dalam penelitiannya, Amaruli menjelaskan, pemikiran Islam Kiai Asnawi yang tertuang dalam berbagai kitab dan syairnya, meliputi akidah, fikih, dan tasawuf sesuai dengan konsepsi aswaja. Menurut Amaruli, Kiai Asnawi memercayai kebenaran doktrin Aswaja, yaitu mengikuti nabi dan sahabatnya sebagaimana yang dijalankan oleh empat mazhab suni.

Dalam bidang akidah, Kiai Asnawi berpegang pada formulasi Imam al-Asyari dan Imam al-Maturudi yang dianggap sebagai formulasi akidah yang terbaik dan final. Bagi Kiai Asnawi, mempelajari ilmu tauhid bagi orang Islam hukumnya adalah fardlu ain, yakni kewajiban yang dibebankan kepada setiap individu.

Menurut Kiai Asnawi, mengetahui dan mengenal (marifat) Tuhan harus memakai dalil naqli (dasar-dasar yang berasal dari Alquran dan Sunnah) dan dalil aqli (dari akal pikiran). Dalam bidang fikih, Kiai Asnawi mengikuti mazhab Imam Syafii yang diikuti mayoritas umat Islam di Nusantara.

Bagi Asnawi, masalah paling pokok dalam fikih ibadah adalah shalat. Dalam hal ini ia merujuk pada hadis nabi: shalat itu tiang agama. Mereka yang mendirikan shalat, berarti ia telah menegakkan agama.

Barang siapa meninggalkan shalat, berarti ia telah menghancurkan agama.

Sementara itu, dalam bidang tasawuf Kiai Asnawi mengikuti tasawuf sufi ortodoks seperti dirumuskan oleh Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali. Paham tasawuf ini menekankan pada peningkatan nilai moral dan kesalehan dengan jalan melaksanakan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw, bukan faham sufi yang menjurus pada panteistik.

Dalam karyanya yang berjudul Syiir NashihatKiai Asnawi menjelaskan sifat sombong (gumedhe). Dalam salah satu syairnya, Kiai Asnawi mengingatkan kekaya an, harta, dan silsilah yang dimiliki, akan menjadikan seseorang sombong jika ti dak didasari dengan ilmu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA