Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Muslim Myanmar Minta Delapan Masjid di Mandalay Dibuka

Jumat 20 Sep 2019 14:14 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agung Sasongko

Sejumlah anak muslim Rohingya membaca alquran di masjid kampung Char Pauk, Sittwe, Myanmar, Sabtu (2/6).

Sejumlah anak muslim Rohingya membaca alquran di masjid kampung Char Pauk, Sittwe, Myanmar, Sabtu (2/6).

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Delapan masjid di Mandalay ditutup sejak 2014.

REPUBLIKA.CO.ID,MANDALAY -- Penduduk Muslim di Myanmar telah meminta izin untuk membuka kembali delapan masjid yang ada di kota Mandalay yang ditutup enam tahun lalu. Permintaan itu dilayangkan didorong oleh upaya perbaikan baru-baru ini dari Jenderal Senior Min Aung Hlaing dengan agama-agama non-Budha di negara itu. 

Pada Sabtu lalu penduduk Muslim di kota itu mengirim surat ke Kantor Penasihat Negara, Kantor Panglima dan Departemen Kebudayaan dan Agama. Menurut sekretaris Dewan Urusan Agama Islam U Wunna Maung Shwe, dalam surat tersebut mereka meminta dibukanya kembali enam rumah ibadah umat Islam di kota-kota Meiktila dan Yamethin. 

"Muslim di Meiktila dan Yamethin menyambut baik upaya Panglima untuk berkomunikasi dengan non-Buddha, tetapi saya tidak tahu niatnya," kata Shwe, dilansir di The Myanmar Times, Jumat (20/9). 

Sementara itu, juru bicara Departemen Kebudayaan dan Agama Myanmar, U San Win mengatakan mereka belum menerima surat tersebut. Ketua Dewan Islam Mandalay, U Maung Maung, mengatakan ia bertanya kepada Jenderal Min Aung Hlaing tentang pembukaan kembali masjid-masjid lain ketika ia mengunjungi Masjid Juni pada 11 September 2019 lalu. Kunjungan saat itu dilakukan dalam rangka memberikan sumbangan beras, minyak goreng, kacang polong dan uang. 

Masjid-masjid di kota Meiktila dan Yamethin ditutup di tengah terjadinya kekerasan komunal yang intens di Mandalay pada 2014 lalu. Namun, ketegangan telah mereda. Jendeal Min Aung Hlaing pun mulai mengunjungi tempat-tempat suci Hindu, Muslim, Kristen, dan non-Budha lainnya bulan lalu. Hal itu disebut sebagai upaya untuk menumbuhkan persatuan di antara berbagai agama di negara itu. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA