Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Misi Pesantren Daarul Mukhlishin Menguatkan Akidah

Senin 09 Sep 2019 22:22 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Agung Sasongko

Santri pondok pesantren (Ilustrasi)

Santri pondok pesantren (Ilustrasi)

Foto: Republika/ Wihdan Hidayat
Sistem pendidikan pesantren Daarul Mukhlishin mengadopsi ponpes Darussalam Gontor.

REPUBLIKA.CO.ID,  KUNINGAN -- Pesantren Daarul Mukhlishin adalah pesantren pertama yang ada di Desa Cisantana Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Pesantren yang lokasinya di kaki Gunung Ciremai itu berdiri pada 1994. Pesantren ini didirikan seorang ulama Kuningan yang juga lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor yakni KH Yayat Hidayat.

Berdirinya pesantren ini tak lepas dari dorongan warga Cisantana. Sebab saat itu belum ada satu pun lembaga pendidikan Islam yang ada di tempat itu. Terlebih kala itu, menurut KH Yayat ada kekhawatiran di tengah masyarakat akan gencarnya misi kelompok tertentu yang membuat warga Cisantana yang beragama muslim berpindah agama. Di atas lahan seluas 5 hektar lebih, Kiai Yayat pun mendirikan pesantren Daarul Mukhlishin.

Pesantren Daarul Mukhlishin berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat Cigugur yang heterogen. Lokasinya tak jauh dari tempat wisata Gua Maria Cigugur.
Menurut Kiai Yayat, selain mempunyai misi membentengi akidah umat muslim, pesantren Daarul Mukhlishin juga berupaya menjaga perbedaan yang ada ditengah masyarakat.

“Kita walaupun semangatnya membentengi (aqidah) umat Islam, tapi bukan berarti kita disini memposisikan diri sebagai musuh buat non muslim. Justru kita disini merajut kebhinekaan, kita ingin menunjukan wajah yang damai dari Islam,” kata Kiai Yayat saat berbincang dengan Republika,co.id pada Senin (9/9).

Kiai Yayat awalnya mendirikan masjid serta asrama santri putra. Namun seiring berjalannya waktu, fisik bangunan pesantren terus berkembang pesat. Selain menambah asrama santri, ia juga mendirikan ruang kelas, asrama guru, sarana olahraga hingga studio radio untuk santri belajar.

Sistem pendidikan pesantren Daarul Mukhlishin mengadopsi sistem pendidikan Ponpes Darussalam Gontor. Di mana selain mempelajari literatur-literatur keislaman, pesantren juga menekankan penguasaan bahasa asing pada santrinya. Saat ini, total santri Ponpes Daarul Mukhlishin berjumlah 65 santri. Alumni pesantren Daarul Mukhlishin kebanyakan melanjutkan studi ke perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.

“Ijazah pesantren di sini disetarakan dengan SMA dan Aliyah, jadi bisa dipakai untuk kuliah di dalam maupun luar negeri juga bisa dipakai buat kerja,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA