Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Manusia Madu

Kamis 05 Sep 2019 03:03 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Setiap mukmin semestinya bercita-cita menjadi manusia madu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah tidak hanya memberi wahyu kepada para manusia, tapi juga kepada makhluk ciptaan-Nya. Salah satunya adalah lebah. Kepada serangga yang dikenal memiliki sengatan tajam ini, Allah memberi wahyu (ilham), ''Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.'' (QS Annahl [16]: 68).

Serangga itu kemudian juga diberi ilham agar memakan bermacam-macam buah-buahan dan menempuh jalan Allah yang telah dimudahkan bagi mereka. Tanpa membantah sedikit pun, para lebah itu sangat taat menjalankan perintah Allah. Hasilnya sungguh ajaib, ''Keluar dari perut lebah itu minuman (syaraabun) yang bermacam-macam warnanya, yang di dalamnya mengandung obat yang menyembuhkan bagi manusia (syifaa'un linnasi).'' (QS Annahl [16]: 69).

Rangkaian kedua ayat tersebut ditutup dengan pernyataan Allah yang sangat khas, ''Sungguh, pada yang demikian itu (keajaiban lebah yang taat menjalankan wahyu Allah sehingga dari perut mereka keluar madu berwarna-warni yang bukan saja enak dan manis rasanya, tapi juga (menyembuhkan manusia)), benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan.''

Allah tentu punya alasan khusus mengapa lebah dipilih-Nya untuk diberi ilham. Prof Dr M Quraish Shihab mengungkapkan banyak sekali keajaiban dan keistimewaan yang dimiliki lebah. Antara lain, sistem kehidupannya yang penuh disiplin, dedikasi tinggi, bentuk bahasa, serta cara mereka berkomunikasi (Membumikan Al-Qur'an, cetakan XX, 1999).

Keajaiban dan keistimewaan itu pula, kata Quraish Shihab, yang dipakai sebagai metafor oleh Rasulullah SAW saat menerangkan manusia seutuhnya; manusia mukmin. Yaitu, manusia yang, ''Bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah; seperti kembang yang semerbak, tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna; seperti madu yang dihasilkan lebah.''

Setiap mukmin semestinya bercita-cita menjadi manusia madu, di samping manis dan enak rasanya, juga menyembuhkan sesama (syifaa'un linnasi). Sebuah metafor amat puitis, yang tanpa diiklankan di media massa sekali pun, orang akan tahu bahwa manusia madu seperti itulah yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit. Sebagai makhluk yang taat pada Allah (takwa), dalam perilaku sehari-hari, manusia madu beramal saleh atas dorongan ilham (wahyu) dari Sang Khalik. Takwa, ke sanalah muara yang dituju. n

sumber : Hikmah Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA