Sabtu 24 Aug 2019 16:00 WIB

Mutiara Terbaik dari Al Zubarah

Al Zubarah dinilai sebagai tempat penghasil mutiara terbaik.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Agung Sasongko
Kerajinan Kulit Mutiara Maluku (Ilustrasi)
Foto: Google
Kerajinan Kulit Mutiara Maluku (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Al Zubarah dinilai sebagai tempat penghasil mutiara terbaik. Terletak di Qatar, kota di pinggir laut tersebut juga menyimpan segudang sejarah. Arkeolog Alan Walmsley menyatakan, Al Zubarah juga contoh luar biasa dari perencanaan tata kota di Semenanjung Arab. Selama ribuan tahun, kawasan itu memang selalu berurusan dengan arkeolog.

Dalam waktu lebih dari satu abad, Al Zubarah berubah identitas dari hamparan pasir menjadi kawasan yang sangat kaya dan kembali menjadi gurun. Di bagian dasar teluk, tepatnya di sisi tengah ke selatan, terdapat bank mutiara.

Sampai akhir 1700-an, Al Zubarah dijadikan pusat perdagangan. Para pedagang kaya pun membangun sebuah kota dengan dinding megah yang menjadi rumah bagi ribuan orang. Namun, pada awal 1800-an kota tersebut diserang dan sebagian besar dihancurkan tak bersisa. Pada 1811 Al Zubarah dibombardir dari laut oleh kapal-kapal Oman.

Perkotaan hancur karena api yang disulut dan menyisakan reruntuhan. Para sejarawan menilai, penghuni kota tersebut melarikan diri dan menyisakan kota yang sepenuhnya ditinggalkan.

Meski sumber sejarah tentang Al Zubarah cukup langka, sejarawan menyebut, kehidupan di sana dimulai setidaknya pada 1760-an. Dimulai dari kedatangan keluarga dari suku 'Utub, sebuah kelompok hasil koalisi beberapa suku yang muncul di Arab Tengah pada akhir 1600-an. Di antara mereka, ada klan Al Khalifah yang sekarang menjadi penguasa Bahrain.

'Utub mendirikan markas di Kuwait, pada 1765 mereka membombardir sekitar 800 armada. Dengan tekad memperluas wilayah kekuasaan, mereka merambah menjajah Al Zubarah dan mendirikan pusat perdagangan.

Para pedagang dari tempat lain disekitar Teluk pun mulai berdatangan dan mendukung Al Zubarah untuk menjadi pusat perdagangan saat lokasi lainnya, seperti Basra berada di bawah tekanan dan ancaman serangan Persia. Di bawah kekuasaan 'Utub yang dilengkapi dengan sumber mutiara sendiri, Al Zubarah pun dengan cepat mengalami perkembangan.

Akhir 1770-an, kemudian menjadi masa ketidakstabilan politik yang di berbagai wilayah. Sekitar 40 kilometer ke arah utara dari laut Al Zubarah, orang Persia dari Bushehr menentukan gubernur baru mereka di pulau Bahrain. Bagi Persia, Al Zubarah merupakan sebuah ancaman baru.

Permusuhan antara dua kubu ini memuncak dalam pertempuran yang terjadi pada 1783. Peperangan dimenangkan 'Utub yang langsung mengambil alih Bahrain. Di antara penduduk Al Zubarah yang pindah ke Bahrain adalah anggota suku Al Khalifah.

Berbagai respons pun muncul seiring pergerakan yang dilakukan. Termasuk kehadiran kelompok yang berada di bawah ulama Islam Muhammed ibn Abd al-Wahhab. Kelompok itu melakukan perjalanan dari Arab tengah ke wilayah-wilayah pesisir yang dirasa mengancam, termasuk Al Zubarah.

"Al Zubarah merupakan tempat penuh integritas budaya yang luar biasa. Penemuan-penemuan ini memberi cahaya unik pada sejarah bukan hanya tentang Qatar, tapi juga seluruh wilayahnya. Dan kami memiliki hak istimewa untuk menceritakan warisan yang kaya ini kepada dunia," ujar 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement