Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Menjaga 5 Tradisi Lisan Khas Nusantara yang Nyaris Punah

Senin 19 Agu 2019 18:08 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Tulisan tradisional asal Lampung di atas kertas daluang pada Pameran Daluang, Fuya dan Tapa oleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga, di Museum Sri Baduga, Kota Bandung, Kamis (24/8).

Tulisan tradisional asal Lampung di atas kertas daluang pada Pameran Daluang, Fuya dan Tapa oleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga, di Museum Sri Baduga, Kota Bandung, Kamis (24/8).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Tradisi lisan khas Nusantara mulai dilupakan masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lima tradisi lisan khas nusantara terancam punah. Kondisi ini menuntut Tim Peneliti Nilai-nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan dari Balai Litbang Agama Jakarta melakukan penggalian dan pengkajian.   

Menurut Ketua Tim Peneliti Nilai-nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan dari Balai Litbang Agama Jakarta, Mahmudah Nur, ada beberapa indikator dalam menentukan kajian tradisi tersebut di antaranya unik dan hampir punah. 

Baca Juga

Mengenai manfaat penelitian tersebut untuk generasi milenial, agar mereka melek terhadap budaya sendiri dibanding terhadap budaya asing. "Juga supaya tradisi lisan lestari dan bisa menyesuaikan zaman, tradisi lisan tidak sebatas legenda dan mitos saja, banyak sekali tradisi lisan kita harus dilihat secara luas, karena biasanya orang tidak tahu makna simbolik (dalam tradisi lisan) maka kita kupas makna simbolik itu," ujarnya.  

Mahmudah menjelaskan, timnya akan melakukan penelitian nilai-nilai pendidikan agama dalam sejumlah tradisi lisan. Di antaranya tradisi cerita pantun Seren Taun Kasepuhan Cisungsang di Banten, tradisi lisan buka palang pintu di Jakarta, tradisi ayun ambing di Bandung, tradisi ritual kawin cai di Kuningan, dan tradisi Bujanggaan di Indramayu.

"Tujuan utamanya bisa dikatakan mengungkap nilai-nilai pendidikan agama dalam tradisi lisan, agar masyarakat dan publik mengetahui dan dapat mengambil maknanya," kata Mahmudah kepada Republika.co.id usai presentasi hasil studi penjajakan penelitian nilai-nilai pendidikan agama dalam tradisi lisan di Jakarta, Senin (19/8).      

Mahmudah memberi contoh nilai-nilai pendidikan agama dalam tradisi cerita pantun Seren Taun Kasepuhan Cisungsang di Banten. Tradisi Seren Taun digelar untuk menghormati dan menyampaikan rasa terimakasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan leluhur yang telah memberikan berkah dan kesuburan.

Cerita pantun yang dituturkan saat menggelar Seren Taun kandungannya serat dengan aturan adat, keagamaan, dan ajaran prikemanusiaan. Sementara, Nyi Pohaci Sanghyang Sri dianggap sebagai sosok dewi padi yang dihormati dan dimuliakan dalam tradisi Seren Taun. Cerita tersebut diangkat agar masyarakat memperlakukan padi dengan baik layaknya memperlakukan seorang putri.  

Perlakuan baik pada tanaman padi tersebut dilakukan saat menanam, merawat, menuai dan menyimpannya di lumbung padi. Hal tersebut menyiratkan bahwa masyarakat Cisungsang menjaga hubungan baik dengan Tuhan (hablum minallah) dan makhluk lainnya (hablum minnas) dalam hal ini padi.     

Contoh lainnya dalam sebuah petikan petuah leluhur masyarakat Baduy di Banten. Dikatakan gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak, larangan tidak boleh dilanggar, dan buyut tidak boleh diubah. Mahmudah menerangkan, petuah Baduy tersebut sesuai dengan ajaran agama yang mendidik umatnya untuk berbuat baik kepada alam.  

Dia menjelaskan, agama Islam mengajarkan manusia untuk habluminannas dan habluminallah. Artinya manusia diajarkan untuk memiliki hubungan yang baik dengan makhluk Tuhan dan Tuhan. "Menjalin hubungan baik dengan makhluk tidak sebatas dengan sesama manusia saja, bisa juga dengan binatang, tumbuhan dan alam," jelasnya.

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA