Senin 19 Aug 2019 13:32 WIB

Erik Setiawan: Hidayah Menyapaku di Balik Jeruji Besi

Erik Setiawan berganti nama menjadi Muhammad Abdul Hamid.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Nashih Nashrullah
Mualaf yang baru mengucap Syahadat Mei lalu di Lapas Kelas II A Serang, Erik Setiawan (22) yang sudah berganti nama menjadi Muhammad Abdul Hamid, Senin (19/8).
Foto: Republika/Alkhaledi Kurnialam
Mualaf yang baru mengucap Syahadat Mei lalu di Lapas Kelas II A Serang, Erik Setiawan (22) yang sudah berganti nama menjadi Muhammad Abdul Hamid, Senin (19/8).

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG— Hidayah atau petunjuk menjadi rahasia Allah SWT yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Seringkali bahkan didapatkan di tempat-tempat yang tidak terduga dan kepada siapapun yang tidak disangka-sangka.  

Salah satu kisahnya adalah yang terjadi pada seorang narapidana di Lapas Kelas II A Serang, Kota Serang, Banten. Nama aslinya Erik Setiawan (22), mantan pemeluk Budha yang karena kasus kriminal pada 2017 lalu, dijatuhi hukuman penjara selama sembilan tahun. 

Baca Juga

Ternyata penjara justru mengenalkannya dengan Islam dan akhirnya malah jatuh hati kepada agama ini. Pada awal 2019 lalu, dia memutuskan berikrar dua kalimat syahadat. Saat ini bahkan dirinya telah mengubah namanya menjadi Muhammad Abdul Hamid.  

"Ketika masuk penjara saya pikirkan terus apa yang sudah saya lakukan dulu, ingin ada berbenah lah. Selama di penjara saya lihat teman-teman yang lain beragama Islam, liat ibadah mereka, kepercayaan mereka, saya tertarik. Tapi karena pertama dulu tidak ada yang bimbing, jadi belum tahu apa yang harus dilakukan," terang Muhammad Abdul Hamid, Senin (19/8).

Sebelum tinggal di Lapas II A Serang, dirinya ditempatkan di Rutan Jambe, Tangerang dan sekitar awal 2019 ini pindah ke Lapas Serang. Pada saat pindah di Serang ini yang membuat dirinya semakin memberanikan diri untuk memutuskan menjadi Muslim  

Menurutnya di Lapas ini setiap hari, semenjak pagi sekitar pukul 09.0 WIB saja sudah memberikan kegiatan keagamaan bagi para warga binaannya. Ketertarikannya semakin menjadi setelah dia mengenal seorang pembimbing Islam di Lapas tersebut dan menceritakan kepadanya tentang ketertarikannya kepada agama ini.

"Nggak ada paksaan, waktu mau masuk Islam saya izin ke kakak juga, kata kakak, saya sudah besar, bisa menentukan pilihan. Jadi saya jadi semakin berani buat jadi Muslim," terang Abdul Hamid yang memang Yatim-Piatu dan hanya mempunyai kakak kadungnya. 

Saat ini Abdul Hamid mengaku setiap pagi hari selalu meminta diajarkan membaca Alquran, bahkan menurutnya dia sudah hafal beberapa surah pendek seperti al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. 

Saat wartawan Republika.co.id bertemu dengannya, tampak Abdul Hamid, lancar membaca al-Fatihah, surah yang selalu dibacanya setiap shalat.

Pria asal Pamulang, Tangerang Selatan ini mengaku menyesali perbuatan melanggar hukumnya dulu yang pada waktu itu dirinya terjerumus dalam dosa zina yang dilakukannya dengan kekasihnya. Masa-masa penebusan kesalahannya saat ini menurutnya akan dimanfaatkannya untuk berbenah diri.

"Kalau sudah keluar juga saya akan coba belajar di Pesantren. Kemarin ada ustaz yang menawarkan saya tinggal di pesantrennya setelah saya selesai masa hukuman di sini," kata dia. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement