Kamis 15 Aug 2019 05:30 WIB

Gelar Ibu Para Fakir, Peran Istri di Balik Para Ulama Besar

Gelar ibu para fakir diberikan bagi para istri ulama besar.

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi sekeluarga mengaji, mengaji sekeluarga, mengaji bersama, ngaji bersama
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Ilustrasi sekeluarga mengaji, mengaji sekeluarga, mengaji bersama, ngaji bersama

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Buku berjudul “Kisah dan Hikmah Wanita Hadramaut” banyak mengisahkan sosok wanita-wanita salehah dari Hadramaut.  Hadramaut merupakan suatu daerah yang terletak di Yaman bagian Selatan. Daerah ini banyak melahirkan para ulama, cendikiawan, juru dakwah, para wali, dan orang-orang shaleh. Sejak berabad-abad, lalu mereka berhasil menyebarkan Islam di benua Afrika dan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Keberhasilan ulama dan para dari Hadramaut itu tentu tidak terlepas dari peran wanita di sekitar mereka, baik ibu yang mendidiknya maupun istri yang mendampingi. Untuk mengetahui sosok wanita Hadramuat, referensi sejarah dan biografi mereka sangat terbatas.

Baca Juga

Kendati demikian, buku berjudul “Kisah dan Hikmah Wanita Hadramaut” ini mampu menyajikan hikmah yang terkandung dalam perjalanan hidup wanita-wanita suci itu. Dalam konteks Indonesia, kisah dan cara pandang wanita Hadramaut dalam buku ini bisa dijadikan contoh teladan bagi wanita-wanita Indonesia.

Dalam menulis buku ini, Sayyid Hamid bin Ja’far al-Qodri, penulis buku, mampu menjelaskan tentang wanita Hadramaut dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami masyarakat umum. Namun, penjelasannya tidak mengurangi bobot referensi dari setiap alinea yang dituliskan lengkap dengan ayat Alquran dan Hadits Shahih.

Hamid bin Ja’far menulis buku ini karena ingin memberikan contoh teladan wanita shalehah yang hidup di Hadramaut. Pasalnya, wanita yang hidup di zaman modern ini telah banyak yang terperangkap dalam tata cara kehidupan jahiliyah, di mana kehormatan wanita sudah banyak yang hilang.

Di antaranya adalah Zainab binti Ahmad bin Muhammad Shahib Mirbath. Dia merupakan seorang wanita yang hidup menampingi ulama besar Hadhramaut, yaitu al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba Alawi.

Zainab binti Ahmad mendampingi al-Faqih Muqaddam dengan penuh kesabaran dan kesetiaan. Wanita Hadrmaut yang satu ini dijuluki sebagai //ummul Fuqara// yang berati ibu dari orang-orang fakir. Julukan tersebut ditujukan kepadanya karena dikenal sebagai sosok yang dermawan dan gemar menolong orang-orang miskin  

Penulis buku ini, Habib Hamid Ja’far al-Qadri menjelaskan, dalam perspektif tasawuf //al-Fuqara// berarti orang yang butuh pada Allah atau murid yang sedang menempuh jalan spiritual. Karena itu, istri-istri para mursyid atau syekh biasanya juga dipanggil //ummul// fuqara oleh para muridnya, seperti Syekh Abdul Qadir Jailani.  

Dalam hidupnya, Zainad binti Ahmad juga mampu menjadi pendidik yang hebat bagi anak-anaknya. Buktinya, kelima putranya berhasi menjadi para ulama yang saleh, yaitu Alawi, Ali, Ahmad, Abdurrahman, dan Abdullah.

Setelah al-Faqih Muqaddam wafat, Syarifah Zainab bahkan mendapatkan wasiat dari suaminya tersebut untuk mendidik para murid-muridnya. Amanah tersebut diberikan karena Syarifah Zainab memiliki keberanian yang kuat dan telah memenuhi syarat sebagai seorang syekh dalam ilmu tasawuf. 

Syarifah Zainab juga dikenal sebagai seorang istri yang ideal, pendidik yang andal dan seorang ahli ibadah yang shalehah. Dia sanggup mendidik anak-anaknya mencapai kedudukan yang telah dicapai oleh suaminya.

Selain itu, Syarifah Zainab juga kerap membiayai dan memberi makan orang-orang yang berada di //haniqah// atau majelis suaminya. Dalam kitab //Atthib Anbari fi Dzikri Manaqib wa Mafakhir Asli Asri//, Habib Umar bin Idrus bahkan menggambarkan sosok Syarifah Zainab sebagai seorang wanita mulia yang juga mempunyai berbagai karamah dan pengalaman spiritual yang luar biasa.

  

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement