Senin 12 Aug 2019 23:13 WIB

Masjid al-Mansur: Jejak Perjuangan Masyarakat Betawi

Masjid al-Mansur menyimpan nilai historis yang sangat tinggi.

Warga usai melaksanakan ibadah Shalat Dzuhur di Masjid Jami Al Mansur, Tambora, Jakarta Barat, Senin (18/12).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Warga usai melaksanakan ibadah Shalat Dzuhur di Masjid Jami Al Mansur, Tambora, Jakarta Barat, Senin (18/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Jakarta, banyak sekali masjid-masjid tua yang memiliki nilai sejarah. Salah satunya adalah Masjid Al-Mansur. Masjid yang berada di sekitar kawasan Pasar Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, ini menyimpan nilai historis yang sangat tinggi.

Bangunan yang didominasi warna hijau dan putih ini relatif tersembunyi di antara permukiman padat penduduk. Terletak di Jalan Sawah Lio II, Kampung Sawah, Tambora, Jakarta Barat, ketenaran masjid ini tersohor ke mana-mana.

Kesohoran nama masjid yang konon dibangun pada 1717 M ini lantaran dirintis oleh seorang bangsawan dari Kerajaan Mataram bernama Abdul Mihad. Dia adalah putra dari Pangeran Tjakrajaya, sepupu dari Tumenggung Mataram yang sebelumnya bergabung dengan tentara Mataram berperang di Batavia. Abdul Mihad muda berangkat ke Batavia untuk membantu rakyat Jayakarta untuk mengusir VOC.

Karena usahanya secara fisik tidak berhasil, Abdul Mihad berusaha melalui jalan lain untuk menentang penjajahan. Yakni, dengan mendirikan masjid pada 1717. Di masjid inilah, dia mengadakan ceramah-ceramah untuk menggelorakan semangat rakyat menentang penjajah.

Kegiatan dakwah tetap diteruskan oleh keturunan Abdul Mihad, seperti Imam Muhammad Habib dan para ulama perantau, di antaranya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama asal Banjarmasin, pengarang kitab Sabil al-Muhtadin.

Pada masa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari inilah letak mihrab masjid diperbaiki. Arah kiblat yang semula lurus digeser agak miring sekitar 45 derajat dari posisi semula. Hal tersebut dilakukan bersama-sama dengan sejumlah ulama lokal pada 2 Rabiul Akhir 1181 Hijriah atau tanggal 11 Agustus 1767.

Kemudian, dua abad berikutnya, tanggal 25 Sya'ban 1356 H atau sekitar tahun 1937 M, di bawah pimpinan KH Muhammad Mansur diadakan perluasan bangunan masjid. Menurut salah satu takmir masjid Al-Mansur, Ery Rukya, untuk membangun masjid tersebut, warga sekitar mewakafkan tanahnya dengan niat jihad fi sabillillah melawan penjajahan. Hingga, tercatat total luas tanah mencapai lebih dari 2000 meter persegi (m2).

Bahkan, menjelang akhir penjajahan Belanda di Indonesia pada 1940-an, masjid yang belum bernama kala itu dijadikan markas para pejuang dan warga sekitar untuk melawan penjajah yang dipimpin salah seorang keturunan Abdul Mihad, yaitu KH Muhammad Mansur bin Haji Imam Muhammad Damiri.

Awalnya, KH Mansur membangun empat tiang saka guru atau penyangga yang tepat berada di tengah bangunan yang sejajar dengan mihrab. Bangunan asli masjid ini berukuran 10x10 m2. Bangunan itu kini merupakan bagian terendah yang ada di dalam masjid.

Arsitekturnya pun tak jauh berbeda dengan model-model masjid masa itu. Beratap joglo dua tingkat dan ditopang empat pilar besar berdiameter 1,5 meter. Jendelanya hanya sebuah lubang segi empat berteralis kayu profil gada pada setiap sisi tembok. Model pintunya, berdaun dua dengan profil pahatan berlian.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement