Selasa 30 Jul 2019 22:18 WIB

Ketika Pernikahan Dianggap Seperti Beli Baju, Padahal Sakral

Nilai sakral pernikahan dianggap mulai memudar.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah
Menikah.   (ilustrasi)
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Menikah. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai sakral perkawinan tampaknya semakin memudar. Hal tersebut tercermin dari kian meningkatnya angka perceraian.

"Dikira perkawinan hanya seperti beli baju, kalau bosan nanti beli baru, padahal jelas bukan seperti itu," kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam, Muhammadiyah Amin, di hadapan peserta bimbingan perkawinan bagi remaja usia nikah dan generasi berencana, Selasa (30/7).  

Baca Juga

Muhammadiyah berpesan kepada generasi muda harus membuat perencanaan hidup yang matang. Tujuan nikah adalah membangun kebersamaan. Ibaratnya suami dan istri memegang ujung tali, mereka saling tarik ulur. “Jadi kalau mereka sama-sama menarik tali tersebut dengan kencang pasti putus,” kata dia. 

Kegiatan bimbingan perkawinan bagi remaja usia nikah dan generasi berencana diinisiasi Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) DIY. Kegiatan tersebut digelar di Hotel Prime Plaza Yogyakarta pada Selasa (30/7).  

Amin menyampaikan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Maka akan meminta semua Kantor Wilayah Kemenag se-Indonesia membuat acara serupa. Dia menambahkan, banyaknya perceraian karena perkawinan dilalui tanpa bimbingan perkawinan.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kantor Wilayah Kemenag DIY, Nadhif menyampaikan, tujuan kegiatan bimbingan perkawinan bagi remaja usia nikah dan generasi berencana untuk memberikan wawasan pernikahan. Supaya pada saatnya nanti memiliki bekal kuat. "Selain itu juga untuk memberikan peringatan bahaya seks pranikah," ujarnya.

Kegiatan bimbingan perkawinan bagi remaja usia nikah dan generasi berencana diikuti perwakilan pelajar dari 82 siswa MA, 69 siswa SMA dan 89 siswa SMK se-DIY. Keseluruhan peserta mencapai 240 orang dibagi tiga gelombang sejak 29-31 Juli 2019. Dalam acara itu juga dilakukan pembacaan Deklarasi Pelajar DIY yang diikuti oleh seluruh peserta.  

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement