Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

3 Saran Sandiaga Uno untuk Maksimalkan Bonus Demografi Umat

Selasa 23 Jul 2019 17:24 WIB

Rep: Riza Wahyu Pratama/ Red: Nashih Nashrullah

Sandiaga Uno

Sandiaga Uno

Foto: Republika/Prayogi
Sandiaga mangajak memberdayakan masjid sebagai potensi ekonomi umat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sepertiga populasi Indonesia saat ini adalah generasi milenial. Hal itu merupakan kabar yang sangat menggembirakan, karena Indonesia memiliki banyak usia produktif.

Baca Juga

"Populasi kita sekarang 34 persen didominasi oleh teman-teman milenial, sekitar 83 juta jiwa," kata mantan calon wakil presiden, Sandiaga Salahuddin Uno, di Masjid Al Falah Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Ahad (21/7).

Sandi menjelaskan, penggolongan itu didasarkan pada kelahiran di atas 1980-an. Selain menggembirakan bagi Indonesia. Kesempatan tersebut juga menggembirakan bagi umat Islam. 

Pasalnya, mayoritas yang tergolong ke dalam generasi milenial beragama Islam. Dengan demikian, umat Islam di Indonesia seharusnya semakin kuat seiring menguatnya jumlah milenial.

Pada saat yang sama, Sandi juga memperkirakan, pada 2020 mendatang, komposisi kelas menengah di Indonesia akan tumbuh dengan pesat. Pada tahun tersebut, Indonesia akan memiliki 167 juta kelas menengah (63 persen populasi). "Untuk sebuah ekonomi ini adalah sebuah potensi yang luar biasa. Dan 167 juta itu, 85-87 persen adalah umat Muslim," ujarnya.

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), rata-rata pengeluaran kelas menengah Indonesia adalah Rp 2 juta/bulan. Dengan angka tersebut, setidaknya perputaran uang di kalangan kalangan kelas menengah Islam akan mencapai Rp 300 triliun/bulan.  

Dengan potensi sebesar itu, dia berharap bahwa umat Islam dapat memanfaatkannya dengan baik. Sandi berpandangan, memanfaatkan pasar umat Islam, tak lantas menjadi eksklusif ataupun radikal. Hal itu adalah salah satu cara pemberdayaan berbasis komunitas.

"Saya ingin mengingatkan bahwa umat jangan hanya mengkonsumsi yang Rp 300 triliun. Tapi kita berpikir untuk berproduksi," ujar mantan wakil gubernur DKI tersebut.

Sandi menegaskan, peluang pasar tersebut sudah dimanfaatkan negara-negara lain. Bahkan oleh negara yang notabenenya bukan berpenduduk Islam. "Tak hanya di Indonesia. 1,8 milyar populasi Muslim dunia juga mendatangkan produk-produk halal,” kata Sandi.

Sandi menawarkan tiga langkah yang harus dilakukan umat Islam. Ketiga cara tersebut adalah pertama, umat Islam perlu mencetak pengusaha sebanyak-banyaknya melalui masjid. Keberadaan mereka itulah yang nantinya berperan sebagai penggerak ekonomi syariah. 

“Masjid pada dasarnya bukan hanya tempat ibadah. Akan tetapi, juga sebagai tempat berkumpul dan tempat peradaban ekonomi Islam,” kata dia. 

Kedua, umat Islam perlu memerhatikan konsep ekonomi berbasis koperasi, zakat, infak, dan sedekah. Sistem koperasi tersebut dapat dimulai dari komunitas masjid. Komunitas tersebut, bertugas untuk memetakan anggotanya yang terjerat pinjaman riba atau bahkan rentenir. 

Ketiga, umat Islam perlu mengembangkan halal lifestyle. Dengan menjadi produsen halal lifestyle, umat akan mandiri karena mengkonsumsi barang produk sendiri.

Di sisi lain, pendakwah muda, Ustaz Oemar Mita menyampaikan, masjid pada dasarnya bukan semata tempat ibadah, tetapi masjid juga berperan sebagai rumah umat Islam. 

Dia menjelaskan, pada awalnya masjid dijadikan sebagai tempat berkumpul. Sebagaimana nabi yang selalu membangun masyarakatnya melalui masjid. "Masjid adalah universitas dan pusat peradaban di dalam Islam. Kalau kita perhatikan sejarah nabi, itu dimulai dari masjid," kata Oemar Mita.

Kemudian, dalam rangka membangun masjid yang nyaman. Salah satu faktor penunjangnya adalah perbaikan fasilitas. "Kalau masjid wifinya nyala terus. Saya yakin anak-anak muda pada datang ke masjid. Bukan ke tempat yang lain," tuturnya.

Pada akhirnya dia sepakat, masjid seharusnya menjadi tempat bagi semua kalangan. Sehingga, masjid  mampu mempertemukan umat dari berbagai jenis pekerjaan. Mereka dapat bekerja sama dan saling membantu. 

"Banyak orang ke masjid, pengusaha ke masjid. Masjid menjadi perekat semua potensi umat," ujarnya.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA