Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Sutayta Al Mahamli Membangun Peradaban Islam dari Matematika

Sabtu 20 Jul 2019 14:30 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Ilmuwan Muslim

Ilustrasi Ilmuwan Muslim

Foto: Mgrol120
Sutayta berhasil menemukan sebuah persamaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Islam mencatat sejumlah ilmuwan hebat sepanjang masa. Berkat penemuan serta gagasan mereka, beragam keilmuan bisa berkembang pesat seperti sekarang. Salah satu sosok yang berjuang melalui bidang ilmu adalah Sutayta Al Mahamli. Bila dibandingkan dengan Ibnu Sina atau Al Khawarizmi, nama Sutayta mungkin masih asing di telinga sebagian orang. Meski begitu, kecerdasan Muslimah asal Baghdad ini tak kalah luar biasa.

Sutayta merupakan pakar matematika yang hidup pada paruh kedua abad ke-10. Ia dilahirkan dari keluarga berpendidikan tinggi di Baghdad, Irak. Ayahnya, yakni Abu Abdallah Al Hussein menjabat sebagai hakim sekaligus menulis beberapa buku, meliputi Salat Al 'Idayn dan Kitab fi Al Fiqh. Sejak kecil, sang ayah sudah mengajarkan putrinya beragam ilmu pengetahuan.

Bagi Abu Abdallah, pendidikan penting bagi setiap insan, apa pun jenis kelaminnya. Tak heran, ia terus mendorong Sutayta untuk belajar, bahkan mendatangkan banyak guru.

Sejumlah cendekiawan yang pernah menjadi guru Sutayta, di antaranya, Omar bin Abdul Aziz Al Hashimi, Abu Hamza bin Qasim, Ismail bin Al Abbas Al Warraq, dan Abdul Alghafir bin Salamah Al Homsi. Banyak hal yang diajarkan padanya, tapi Sutayta paling tertarik dengan matematika.

Sang Muslimah dikenal sangat menguasai aritmatika. Perlu diketahui, aritmatika mengkaji bilangan bulat positif lewat penjumlahan, pengurangan, pembagian, serta perkalian. Sutayta juga mahir dalam perhitungan waris. Pada zamannya, matematika terutama cabang aritmatika dan perhitungan waris berkembang sangat baik.

Pada cabang aljabar, Sutayta berhasil menemukan sebuah persamaan yang pada masa berikutnya sering dikutip pakar matematika lainnya. Tak heran bila kemampuannya mendapat pujian dari beberapa sejarawan, seperti Ibnu Al Khatib Baghdadi, Ibnu Al Jawzi, serta Ibnu Katsir.

Sutayta bisa dibilang sosok multitalenta, sebab tak hanya matematika, ia turut menguasai keilmuan lainnya, termasuk ilmu agama. Dia pun mumpuni dalam bidang sastra Arab, ilmu hadis, hingga hukum syariah.

Sepanjang hidupnya, Sutayta tak pernah lepas dari angka. Putri Abu Abdillah itu terus mengabdikan diri demi membangun peradaban Islam. Sampai pada akhirnya pada 987 Masehi ia menghembuskan napas terakhir. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA