Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Warisan Para Ilmuwan Seljuk, Apa Saja?

Jumat 19 Jul 2019 22:00 WIB

Red: Agung Sasongko

arsitektur warisan Seljuk.

arsitektur warisan Seljuk.

Foto: muslimheritage.com
Di masa dinasti Seljuk terdapat sejumlah penelitian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Pada era kekuasaan Seljuk terdapat sejumlah penelitian mengenai kemajuan ilmu pengetahuan. Karena itu, tak mengherankan jika pada masa itu terjadi perkembangan pesat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti sains dan teknologi, sastra, seni, dan filsafat di Dunia Islam.

Baca Juga

Perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi pada masa itu bisa dilihat dari berbagai macam peninggalan, baik berupa buku-buku pengetahuan karya ilmuwan Muslim serta peninggalan budaya Islam pada era kekuasaan Dinasti Seljuk.

Megahnya sejumlah monumen dan masjid membuktikan bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk justru ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat di Dunia Islam.

Ada dua institusi keilmuan penting yang berkembang pesat pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk, yakni madrasah dan rumah sakit. Pada masa itu, madrasah dan rumah sakit dibangun di mana-mana. Madrasah, perpustakaan, dan rumah sakit bermunculan di wilayah-wilayah yang dikuasai Dinasti Seljuk, seperti Kota Baghdad, Merv, Isfahan, Nishapur, Mosul, Damaskus, Kairo, Aleppo, Amid (Diyarbakir), Konya, Kayseri, dan Malatya.

Institusi itu berkembang menjadi pusat-pusat kebudayaan Seljuk. Pada masa ini, arsitektur bangunan banyak yang terbuat dari batu-batuan yang tahan lama. Sehingga, berbagai macam bangunan tersebut terus bertahan selama beberapa abad.

Salah satu bukti bahwa ilmu pengetahuan dan sastra tidak padam pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk adalah banyaknya ilmuwan dan intelektual Muslim yang terus mengembangkan ilmunya.

Beberapa ilmuwan dan budayawan terkemuka yang lahir pada masa itu, antara lain el-Juvayni, Ebu Ishak al-Shirazi, al-Bedi' al-Usturlabi, Ebu'l-Berekat Hibetullah bin Malka el-Bagdadi, Samav'el al-Magribi, Serefeddin al-Tusa, Kamal al-din bin Yunus, Shahabeddin Yahya bin Habes al-Suhrawardi, Fahr al-din al-Razi, Ibnu al-Razzaz al-Jezeri, Ibnu al-Esir, serta Seyfeddin el-Amidi.

Selain itu, kita juga mengenal nama az-Zamakhsyari, ilmuwan Seljuk dalam bidang tafsir, bahasa, dan teologi. Al-Qusyairy dalam bidang tafsir. Abu Hamid al-Ghazali dalam bidang teologi, dan Farid al-Din al-'Aththar serta Umar Khayam dalam bidang sastra, astronomi, dan matematika.

Pada era kepemimpinan Sultan Maliksyah (1072-1092 M) di dunia Islam pernah berdiri observatorium besar di Kota Isfahan. Sedangkan seorang ilmuwan bernama Umar Khayam dan teman-temannya memanfaatkan observatorium tersebut untuk melakukan penelitian hingga akhirnya menghasilkan karya berjudul Zic-i Melikshahi atau (Buku Tabel Astronomi) dan Takvim-i Jalali (Kalender Jalalaean).

Pada masa itu, seorang ilmuwan bernama El-Bed' al-Usturlabi menuliskan bukunya yang berjudul al-Zij al-Mahmudi (Buku Tabel Astronomi Mahmudi). Sedangkan, seorang ilmuwan yang bernama Ebu Mansur membuat karya berjudul el-Zij al-Senceri (Buku Tabel Astronomi Senceri).

Istana para Sultan Seljuk, baik di Baghdad, Isfahan, maupun Merv selalu dipenuhi para pelajar, ilmuwan, juga penulis. Mereka menuliskan karya-karyanya, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Persia. Bahkan, Literatur Islam Persia mulai mendunia di bawah Dinasti Seljuk.

Beberapa penulis besar yang karyanya masih bisa dinikmati pada saat ini, antara lain karya Jalaladdin-i Rumi Hakani, Senayi, Nizami, Attar, Mevlan, dan Sa'di. Para penulis besar tersebut hidup dan mempersembahkan karya-karyanya kepada para sultan Dinasti Seljuk.

Kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat yang membaik di bawah kekuasaan Dinasti Seljuk berhasil meningkatkan aktivitas dan prestasi masyarakatnya dalam bidang literatur, seni, dan ilmu pengetahuan. Peningkatan aktivitas masyarakat dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan ini mendapat dorongan yang signifikan dari pemerintah Dinasti Seljuk.

Sejak abad-ke 14 M, ratusan madrasah ditemukan tersebar luas di Anatolia. Hampir setiap wilayah Anatolia terdapat madrasah. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Dinasti Seljuk sangat memperhatikan dunia pendidikan bagi rakyatnya.

Gambaran berbeda terlihat di pusat Kekuasaan Islam di wilayah yang dikuasai bangsa lain, seperti di Mesir, Suriah, dan Palestina, tempat madrasah hanya ditemukan di kota-kota besar, tidak seperti di Anatolia, baik di desa maupun kota, pemerintah membangun madrasah.

Madrasah-madrasah yang dibangun Dinasti Seljuk tersebut masih banyak yang berdiri dengan tegak hingga saat ini, dan dapat ditemukan di berbagai kota besar, kota kecil, juga desa yang berada di Anatolia. 

sumber : Mozaik Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA