Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Gerhana Bulan dan Matahari tak Terkait Mitos Tertentu

Kamis 18 Jul 2019 06:57 WIB

Red: Irwan Kelana

Jamaah Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan, berfoto bersama seusai shalat gerhana bulan, khutbah shalat gerhana dan shalat Shubuh berjamaah, Rabu (17/7).

Jamaah Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan, berfoto bersama seusai shalat gerhana bulan, khutbah shalat gerhana dan shalat Shubuh berjamaah, Rabu (17/7).

Foto: Dok Masjid Al Ittihad
Nabi SAW memberi khutbah usai shalat gerhana.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gerhana bulan terjadi pada Rabu (17/7) dini hari. Pada zaman kebodohan (jahiliyah), gerhana bulan dan gerhana matahari  sering dikaitkan dengan mitos tertentu. Namun hal itu dibantah oleh Rasulullah SAW.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr KH Syamsul Yakin MA saat memberikan khutbah shalat gerhana bulan di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta, Rabu (17/7). “Terjadinya gerhana bulan sama sekali tidak terkait dengan mitos tertentu. Hal ini seperti diungkap berkali-kali oleh Nabi SAW dalam hadits yang ditulis oleh Imam al-Bukhari, ‘Terjadinya gerhana matahari dan bulan, bukanlah karena seseorang yang meninggal dunia. Maka apabila kamu melihat keduanya, shalatlah dan berdoalah sehingga segalanya menjadi terang kembali’,” kata Dr Syamsul Yakin seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (17/7).

Ia menambahkan, bersumber dari Mughirah bin Syu’bah seperti ditulis Imam al-Bukhari dalam kitab haditsnya, Mughirah berkata, “Pada masa Rasulullah SAW terjadi gerhana matahari yang waktunya bertepatan dengan meninggalnya Ibrahim (putera Nabi SAW). Terkait dengan hal itu banyak orang yang berkata, ‘Terjadi gerhana  matahari karena meninggalnya Ibrahim’.

Nabi SAW kembali menegaskan, “Sesungguhnya,  terjadinya gerhana matahari dan bulan, bukanlah karena kematian dan kelahiran seseorang. Apabila kamu melihatnya, shalatlah dan berdoalah kepada Allah SWT.”

Secara teoritis dan praktis, kata Syamsul Yakin yang juga dosen FIDK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, rangkaian ibadah yang mengiringi terjadinya gerhana adalah seperti hadits yang bersumber dari Aisyah bahwa beliau bersabda, “Pada masa Rasulullah SAW terjadi gerhana matahari. Untuk itu beliau shalat mengimami orang banyak. Nabi SAW berdiri dan lama berdirinya, kemudian ruku’ dan lama ruku’nya.

Lalu beliau berdiri dan lama berdirinya tapi tidak selama yang pertama. Sesudah itu ruku’ dan lama ruku’nya tetapi tidak selama ruku’nya yang pertama. Lalu beliau sujud dan lama sujudnya.Usai itu Nabi SAW melaksanakan rakaat yang kedua seperti yang telah beliau lakukan ada rakaat yang pertama. Sesudah itu selesai ….” (HR. Bukhari).

“Dalam hadits Imam al-Bukhari juga disebutkan bahwa Nabi SAW memberi khutbah usai shalat gerhana, baik gerhana matahari maupun bulan dan dilakukan secara berjamaah,” papar Syamsul Yakin yang juga pengasuh Pondok Pesantren Darul Akhyar, Parungbingung, Depok, Jawa Barat.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA