Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Perkembangan Arsitektur Islam di Mulai dari Dinasti Umayyah

Kamis 11 Jul 2019 17:17 WIB

Rep: Yusuf Ashiddiq/ Red: Agung Sasongko

Masjid Umayyah

Masjid Umayyah

Perkembangan arsitektur secara sistematis telah dirintis sejak masa Umayyah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan arsitektur secara sistematis telah dirintis sejak masa Umayyah. Arsitek ternama kala itu adalah al-Walid. Ia adalah putra Khalifah Abd al-Malik. Ia sudah mempunyai bakat dan potensi yang besar dalam bidang arsitektur sejak ia masih berusia muda. Ia terus menekuni bakatnya hingga mewarisi takhta kekhalifahan.

Pada saat senggang, ia kerap berbincang dengan pembantu-pembantunya, terutama mengenai bangunan-bangunan indah. Salah satu prestasi mengagumkan yang pernah ia ukir adalah merenovasi Masjid Agung Umayyah yang ada di ibu kota pemerintahan,  Damaskus, Suriah.

Baca Juga

Selain itu, dalam History of the Arabs, Philip K Hitti menyatakan, al-Walid memperluas dan memperindah Masjidil Haram di Makkah dan juga merenovasi Masjid Nabawi yang ada di Madinah. Sosok ini pula yang mengenalkan struktur mihrab—cerukan pada dinding masjid sebagai penunjuk arah kiblat dan tempat imam—untuk pertama kalinya.

Begitu pula menara masjid sebagai bentuk arsitektur Islam yang paling penting. Menara masjid mulai dibangun semasa pemerintahan al-Walid. Ia juga meninggalkan beberapa bangunan, terutama istana kekhalifahan. Di antara yang terkenal keindahannnya adalah Istana al-Qubbah al-Khadra, al-Ukhaydir, serta al-Musyatta.

Pembangunan Istana Musyatta belum selesai saat khalifah yang arsitek ulung itu wafat dalam usia 40 tahun. Arsitek lain yang terkenal pada abad ke-7 Masehi adalah Ibrahim bin Ghanaim bin Said. Menurut Khalid Azabi, Ibrahim menjadi salah satu orang kepercayaan Khalifah al-Zahir.

Ibrahim merancang dan memimpin langsung pembangunan istana khalifah yang terletak di luar Kota Damaskus. Semasa kekuasaan Dinasti Mamluk, nama Shihab Eddine Ahmed bin Mohammed bin Ali Toulouni mencuat. Dia dipercaya menjadi kepala arsitek di istana khalifah.

Menurut sejarawan al-Asqalani, Shihab sangat ahli di bidangnya hingga dijuluki sebagai pemimpin para arsitek. Ia pernah ditugasi merenovasi Masjidil Haram di Makkah. Setelah ia meninggal dunia, jejaknya diteruskan oleh putranya yang bernama Muhammad.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA