Rabu 10 Jul 2019 21:16 WIB

Haedar Ungkap 2 Sebab Gaduhnya Negara di Depan Para Sosiolog

Gaduhnya negara dipicu dua faktor utama.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nashih Nashrullah
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Foto: Dokumen.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL – Suasana perpolitikan Indonesia mengalami pergolakan yang cukup hebat beberapa tahun terakhir. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir berpesan, ilmuwan harus dapat memikirkan kemajuan bangsa. 

Itu disampaikan Haedar ketika menghadiri Sarasehan Ikatan Sarjana Sosiologi (ISI) bersama Program Doktor Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Kampus Terpadu UMY.

Baca Juga

Dalam pidatonya, Haedar menyeru sosiolog-sosiolog bisa bekerja sama dan menawarkan hal-hal baru. Tentu saja, hal-hal itu harus sangat berguna bagi tanah air.

Dia menilai pakar-pakar sosiologi perlu tampil menawarkan suatu perubahan untuk bangsa. Dengan ilmu perspektifisme, para sosiolog mampu melihat ragam persepektif menjelaskan isu-isu kebangsaan.

"Agar orang-orang tidak bersumbu pendek dalam melihat Indonesia, silakan untuk melakukan pendekatan dengan berbagai cara," kata Haedar, Senin (8/7).

Haedar melihat, setidaknya ada dua kondisi yang menjadikan bangsa ini gaduh. Pertama menguatnya politik identitas tiap kelompok dan kedua paham radikalisme menjadi semakin kuat. 

Dia menerangkan, sosiolog-sosiolog perlu mempelajari poin-poin dari positifisme dengan pendekatan interpretatif. Ini berguna demi memberi pemahaman mengenai dasar perpolitkan di Indonesia.

Khususnya, solusi mengenai persoalan-persoalan bangsa. Terlebih, dalam ilmu politik kebanyakan berisi pragmatisme Amerika Serikat yang kuat, bukan kontenental yang memiliki filosofis.

"Sehingga, pendekatan ahli-ahli ilmu politik Indonesia menjadi sangat pragmatis dan keras, terbukti amandemen UUD 45 itu produk pendekatan ilmu politik yang positifistiknya pragmatis," ujar Haedar.

Dengan demikian, lanjut Haedar, kehilangan filsafat politiknya. Dalam akhir pidatonya, Haedar berharap, ilmuwan-ilmuwan yang bergerak di bidang sosiologi bisa terus melakukan pembahasan membangun. 

Tujuannya, agar masalah-masalah yang terjadi pada Pemilu 2019 tidak terjadi kembali. Apalagi, masyarakat setelah kemarin masih terjebak di situasi yang menyebabkan daya kritis menjadi lemah.

Haedar menekankan, kalau kondisi Indonesia seperti itu terus akan kehilangan peluang dalam melakukan lompatan. Utamanya, untuk menjadi negara yang maju. 

"Banyak orang menjadi berpikiran pendek dan miopik, sehingga kita tidak lagi berada di ruang sosiologis yang leluasa untuk membicarakan Indonesia kedepan," kata Haedar.  

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement