Selasa 09 Jul 2019 17:17 WIB

Penerjemahan Alquran dari Masa ke Masa Sangat Dinamis

Kementerian Agama melalui LPMQ masih terus menyempurnakan terjemahan Alquran

Rep: Muhyiddin/ Red: Agung Sasongko
Kepala LAPAN, Prof Thomas Djamaluddin (kiri) hadir memberikan materi pada Ijtimak Ulama Alquran Tingkat Nasional, di Hotel El Royale, Kota Bandung, Selasa (9/7)
Foto: Republika/Edi Yusuf
Kepala LAPAN, Prof Thomas Djamaluddin (kiri) hadir memberikan materi pada Ijtimak Ulama Alquran Tingkat Nasional, di Hotel El Royale, Kota Bandung, Selasa (9/7)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ijtimak Ulama Alquran Tingkat Nasional 2019 memasuki hari kedua. Di hari kedua, LPMQ menggelar seminar dengan menghadirikan tiga narasumber yang ahli dalam bidangnya masing-masing.

Ketiga narasumber itu adalah Mantan Menteri Agama Prof. Said Aqil Husein Munawwar, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin, dan Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Kemendikbud, Prof. Ghufran Ali Ibrahim.

Baca Juga

Dalam pemaparannya, Prof. Said menjelaskan tentang dinamika terjemahan Alquran dari masa ke masa. Menurut dia, kandungan atau  pesan-pesan dalam Alquran sangat luas, sehingga kajian atau penerjemahan Alquran tidak akan ada habisnya.

“Dipastikan kajian terhadap Alquran tidak akan pernah selesai sampai selesai pula para penerjemah atau para mufassir itu dari dunia ini. Jadi ini menunjukkan begitu luasnya (kandungan Alquran, red),” ujar Prof. Said saat menjadi pembicara dalam Ijtima Ulama Alquran di El-Hotel Royale, Bandung, Selasa (9/7).

 

Prof. Said mengatakan, penerjemahan Alquran dari masa ke masa sangatlah dinamis. Menurut dia, dinamika penerjemahan Alquran itu berjalan seiring dengan dengan berkembangnya zaman. Karena itu, hingga saat ini Kementerian Agama melalui LPMQ masih terus menyempurnakan terjemahan Alquran dari edisi sebelumnya.

“Semoga usaha kita dalam mengawal Alquran melalui usaha penerjemahan ini senantiasa mendapatkan ridha dari Allah,” katanya.

Prof. Ghufran Ali sebagai ahli bahasa menjelaskan tentang kaidah dan prinsip penerjemahan. Menurut dia, seorang penerjemah minimal harus memiliki tiga hal pokok, yaitu menguasai bahasa sumber, menguasai bahasa sasaran, dan menguasai bidang yang diterjemahkan.

“Jika satu di antara tiga itu tidak dikuasai dengan baik, saya kira akan terjadi keterpelesetan penerjemahan, atau mungkin bisa terjadi kesesatan dalam penerjamahan,” ucapnya.

Untuk menyatukan tiga hal tersebut, maka diperlukan uji sahih terjemahan Alquran. Karena, dalam forum uji publik itu terdapat orang-orang yang menguasai bahasa Arab, menguasai bahasa Indonesia, dan juga ada yang menguasai bidang yang diterjemahkan.

Seperti halnya dalam bidang penerjemahan ayat-ayat sains, maka diperlukan orang yang ahli dalam bidang tersebut. Karena itu, seminar ulama Alquran ini menghadirkan Prof. Thomas Djamaluddin, yang mana sudah banyak bergelut dalam bidang sains di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Saat menjadi pembicara, Prof. Djamaluddin banyak menjelaskan tentang ayat-ayat sains dalam terjemahan Alquran Kementerian Agama. Karena, menurut dia, hal yang sifatnya mukjizat dalam Alquran sebenarnya juga bisa dijelaskan secara sains.

“Hal-hal yang sifatnya semacam mukjizat itu sesungguhnya bisa dijelaskan secara sains,” jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement