Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Kegigihan Tan Kheng Hiong Jaga Iman di Tengah Impitan Hidup

Rabu 03 Jul 2019 05:00 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Nashih Nashrullah

Salah seorang korban tsunami Aceh 2004, Tan Kheng Hiong yang kini bernama Siti Aisyah, memutuskan untuk menjadi seorang mualaf pada Agustus 2018, bantuan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) karena Aisyah hidup sebatang kara lantaran suami dan anaknya meninggal.

Salah seorang korban tsunami Aceh 2004, Tan Kheng Hiong yang kini bernama Siti Aisyah, memutuskan untuk menjadi seorang mualaf pada Agustus 2018, bantuan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) karena Aisyah hidup sebatang kara lantaran suami dan anaknya meninggal.

Foto: Dok IZI
Tan Kheng Hiong tetap istikamah menjaga iman meski mendapat masalah.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN — Salah seorang korban tsunami Aceh 2004, Tan Kheng Hiong yang kini bernama Siti Aisyah, memutuskan  menjadi seorang mualaf pada Agustus 2018. Sudah 10 tahun dia hidup sebatang kara lantaran suami dan anaknya meninggal akibat menjadi korban bencana tsunami terbesar itu, dan dia harus menjadi seorang asisten rumah tangga (ART). 

Selain suami dan anaknya yang menjadi korban, seluruh keluarga besarnya pun turut menjadi korban dalam musibah tersebut. Pada 2018 lalu, Aisyah memutuskan untuk pindah dan menyambung hidup di Kota Medan.   

Baca Juga

Aisyah memberanikan diri pindah dari Banda Aceh menuju Medan, namun sangat disayangkan, ia harus berjuang untuk sekedar mencari makan saat pindah ke Medan. “Saya bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di salah satu rumah dosen perguruan tinggi di Medan,” kata Aisyah dalam keterangannya kepada Republika.co.id, Selasa (2/7).  

Hidup sebatang kara membuat Aisyah harus bekerja keras mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun hidup di kota orang, Aisyah tidak pantang menyerah mencari pekerjaan. Pekerjaan tersebut terus dia tekuni untuk dapat menyambung hidup dengan tidak meminta-minta ke orang lain.     

Perempuan kelahiran 1968 ini, tinggal di sebuah kamar kost berukuran kecil di Medan, Sumatra Utara. Dan tidak hanya kebutuhan pangan yang harus Aisyah penuhi, melainkan kebutuhan lainnya juga, seperti membayar kamar kost, listrik, air, dan lainnya . 

Penghasilan sebagai ART tentu saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, kadang untuk biaya kamar kost saja, terkadang majikannya ikut membantu. Kondisi ini membuat Tim IZI merasa haru bercampur rasa bangga atas kegigihan Aisyah meski dihadapi dengan situasi kesulitan ekonomi, dia tetap istikamah menjadi Muslimah.  

Mendengar kondisi Aisyah yang memperihatinkan, Tim IZI Sumut melakukan kunjungan sekaligus silaturahim ke kediaman perempuan berdarah Tiongkok itu. Sesampainya di kost, kondisi interiornya cukup memprihatinkan. Hanya terlihat tumpukan pakaian saja, tempat tidur, serta kompor, bahkan sesekali pula tetangga memberinya makanan karena prihatin.

“Saya sudah coba minta bantuan kemana-mana, alhamdulillah Tim IZI datang dan memberikan bantuannya. Terima kasih para donatur dan IZI yang sudah membantu meringankan kebutuhan hidup saya,” ungkap Aisyah.

Tim IZI berharap semoga bantuan yang telah diberikan dari donatur yang diamanahkan kepada IZI, bisa bermanfaat untuk Aisyah serta Aisyah tetap istikamah memeluk agama Islam.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA