Rabu, 14 Zulqaidah 1440 / 17 Juli 2019

Rabu, 14 Zulqaidah 1440 / 17 Juli 2019

Jamal Zarabozo Belajar Alquran Menuntunnya Bersyahadat

Senin 01 Jul 2019 14:00 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Alquran

Alquran

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Alquran mengajak manusia untuk merenungkan firman Allah.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Hidup dalam tradisi keagamaan warisan keluarga membuat seorang Jamal Zarabozo tak merasa tenang. Pria kelahiran 1976 ini banyak bertanya-tanya mengenai konsep agama yang dianutnya. Mengapa Tuhan memiliki anak? Seperti apa sejarah Alkitab? Mengapa ada tiga tuhan yang disembah? Dan banyak lagi.

Semua itu menyelimuti pemikirannya. Dia mencari jawabannya dengan membedah berbagai literatur.Tapi, belum ada yang menjadi jawaban yang dicari. Lelaki asal Prancis ini memberanikan diri membedah kitab suci sejumlah agama.

Ketika membaca Alquran, sampailah dia pada pemahaman yang memuaskan kegelisahan batinnya. Ternyata, Tuhan adalah Mahasegala. Dia tunggal dan tidak memiliki kesamaan dengan apa pun. Berada di arasy nan jauh di atas sana bersama para malaikat yang mengitari baitul makmur di bawahnya.

Allah dengan segala firman-Nya menginspirasi kehidupan manusia. Dia adalah sumber ilmu yang tak pernah habis, seperti oase yang meng hidupi banyak makhluk. Lebih jelas, seandainya air laut digunakan sebagai tinta untuk menulis perkataan Allah, air laut akan habis sebelum kalimat-kalimat itu selesai ditulis (al-Kahfi: 109). Begitulah perumpaan ilmu Allah yang begitu luas dan penuh dengan kearifan.

Pada saat berusia 16 tahun, Zarabozo bersyahadat. Dia sudah meyakini bahwa Islam adalah agama yang selama ini dia cari. Setelah itu, dia mempelajari bahasa Arab yang merupakan kunci membedah ber bagai khazanah keilmuan Islam. Tak seperti latin, bahasa Arab kaya akan per bendaharaan kata. Bermula dari tiga huruf dasar, kata dapat berubah menjadi berbagai bentuk, mulai kata kerja, benda, tempat, dan banyak lagi.

Ketika itu, dia tertarik dengan ilmu hadis dan sains. Dari Kalifornia, dia pindah ke Colorado pada pertengahan 80-an. Di sana, dia bergaul dengan sekelompok pen dakwah lulusan Universitas Imam Muhammad, Riyadh, Arab Saudi. Mereka sedang mengejar gelar sarjana di Universitas Boulder. Dari mereka, Zarabozo mempelajari berbagai ilmu dalam Islam, seperti sejarah kenabian (sirah), fikih, tauhid, dan lainnya.

Yang lebih menarik lagi, dia bertemu dengan ahli hadis, Mustafa Azami di Boulder. Kesempatan itu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendalami hadis dan banyak ilmu lainnya. Beberapa tahun dilaluinya untuk belajar bersama sang cendekiawan.

Dengan semua bantuan dan bimbingan mereka, bersama dengan ketekunan dan dedikasinya, Zarabozo berhasil memahami banyak tradisi keilmuan dalam Islam. Dia juga memegang gelar sarjana ekonomi dari UC Berkeley dan gelar master di bidang ekonomi dari UC Davis. Pada 2015 dia menerima gelar doktor kehormatan dari Majelis Ahli Hukum Muslim di Amerika (AMJA).

"Alquran telah meyakinkan saya bahwa Islam adalah agama yang benar. Keasliannya menyentuh hati saya. Ini yang selama ini tak saya te mukan dalam perjalanan hidup," jelasnya seperti diberitakan aboutislam.net. Jika ingin mengimani Tuhan maka kitab suci yang menjadi rujukan harus terjaga keasliannya.

Itulah alasan mendasar yang membuat dirinya bera ni melakukan lompatan hidup, sesuatu yang belum tentu akan dilakukan orang lain. "Tidak masuk akal untuk meng imani wahyu Allah jika seseorang me ragukan keaslian kitab sucinya," ujar Zarabozo. Sejarah Alquran menjelaskan ba gaimana kitab suci itu terjaga kebe naran dan keasliannya hingga kini.

Bermula dari kegelisahan sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab menyaksikan banyaknya para penghafal Al quran yang mati di medan perang. Mereka kemudian berijtihad untuk menuliskan Alquran yang selesai pada masa Khalifah Usman bin Affan. Karena itulah, mushaf yang sampai pada saat ini disebut dengan mushaf usmani.

Karena itu, dia tidak sepakat dengan orientalis dan sejumlah ilmuwan yang sinis kepada Islam. Asumsi mereka bahwa ayat-ayat dalam Alquran adalah hasil pencurian dari Injil dan kitab suci sebelumnya jauh dari kebenaran. Hal itu adalah fitnah yang sangat keji.

Zarabozo pun terkejut ketika mengetahui bahwa kitab suci ini menjadi bahan kajian banyak ilmuwan. Penelitian dilakukan dalam bidang sains, sejarah, ilmu agama, dan lain nya. Satu hal yang paling disukainya adalah Alquran mengajak manusia untuk merenungkan firman Allah. Sehingga, setiap orang akan mema hami bahwa semua yang ada saat ini tidak muncul dengan sendirinya. Ada proses penciptaan yang merupakan mahakarya Sang Pencipta.

Kini, Zarabozo menghabiskan wak tunya untuk berdakwah. Dia mengajarkan ilmunya kepada banyak orang. Dia juga aktif menerjemahkan sejumlah buku-buku rujukan, seperti Fikih Sunnah karangan Syekh Sayyid Sabiq. Dia juga menulis sejumlah buku tentang fikih wanita, jalan menuju surga, dunia jin dan setan, dan fikih pernikahan. Lainnya adalah tentang ekstremisme dalam beragama dan bagaimana Islam menyikapi hal tersebut.

Zarabozo juga aktif menyunting majalah al-Basheer sejak delapan tahun lalu. Orang memanggilnya dengan Syekh Zarabozo. Dari mulutnya telah keluar ratusan ceramah keagamaan yang menginspirasi Muslim di berbagai belahan dunia. Kepada jamaahnya, dia selalu berpesan agar tidak bosan belajar. Jangan sekadar mengimani keyakinan yang dijalani.

Sehingga, setiap orang harus belajar mendalami berbagai hikmah yang ada dalam Islam. Risalah yang dibawa Rasulullah itu berisikan hikmah kehidupan, penciptaan, sejarah masa lalu yang penuh inspirasi. Semuanya adalah bekal untuk menempuh perjalanan kehidupan yang penuh dengan tantangan, baik di dunia maupun akhirat. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA