Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Ibnu Khaldun Jadi Saksi Kemunduran Peradaban Islam

Sabtu 15 Jun 2019 22:15 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilmuwan Muslim.

Ilmuwan Muslim.

Foto: Metaexistence.org
Ibnu Khaldun kerap berpindah dari satu kota ke kota lainnya di Afrika Utara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pada 1355, saat menginjak usia 23 tahun, Sultan Abu Inan mendaulat Ibnu Khaldun sebagai sekretaris kerajaan. Posisinya di lingkungan birokrasi tidak menghalanginya untuk meneruskan studi. Di Fez, ia selalu hadir dalam setiap perkumpulan para sarjana yang mendiskusikan ragam keilmuan. Mayoritasnya berasal dari Maroko dan Andalusia.

Secara keseluruhan, situasi politik dan sosial pada masa itu mulai stabil, sehingga amat kondusif demi perkembangan peradaban Islam. Sejarawan Muhammad Enan menilai, Ibnu Khaldun cukup diuntungkan baik lantaran posisinya yang dekat dengan Sultan Abu Inan maupun asal keluarganya yang sama-sama terhormat.

Baca Juga

Namun, lika-liku kekuasaan tidak bisa diprediksi. Baru dua tahun bekerja sebagai sekretaris kerajaan, Ibnu Khaldun dipenjara lantaran dituduh ikut berkomplot dengan kelompok yang ingin menggulingkan kekuasaan Sultan Abu Inan.

Sejarawan Muhsin Mahdi mengatakan, inilah akhir dari karier Ibnu Khaldun di lingkungan istana. Berpuluh-puluh tahun kemudian, situasi sosial dan politik Afrika Utara jauh dari stabil. Rezim-rezim kekuasaan timbul dan tenggelam serta saling menjatuhkan satu sama lain.Mahdi mengungkapkan, dalam abad ke-14 Ibnu Khaldun menghabiskan 50 tahun masa hidupnya untuk menyaksikan kemunduran peradaban Islam di Afrika Utara.

Sejarawan Eugene Myers merangkum keadaan Ibnu Khaldun dalam masa ini. Situasi politik sangat tidak stabil, sehingga Ibnu Khaldun kerap berpindah dari satu kota ke kota lainnya di Afrika Utara.

Ia mengandalkan hubungan keluarga atau pertemanan untuk memasuki kota-kota suaka. Namun, berulang kali pula ia mesti ditahan karena dicurigai sebagai pengikut rezim kekuasaan tertentu. Kondisi inilah yang memantik perenungan Ibnu Khaldun.

Ia semakin tertarik untuk mencari tahu apa-apa yang membuat masyarakat mesti mengalami kemunduran peradaban serta merumuskan syarat-syarat ideal suatu peradaban dapat bangkit kembali.

Saat usianya 30 tahun, Ibnu Khaldun menyeberangi Selat Gibraltar untuk menemukan suaka politik baru. Pada 1362, ia diterima dengan baik oleh raja Granada, Muhammad V. Selain itu. Ia juga menjalin persahabatan dengan perdana menteri Granada, Ibnu al- Khatib, yang juga seorang sarjana terkemuka dari Andalusia.

Ia memutuskan untuk memboyong seluruh keluarganya karena situasi yang kondusif di Granada. Dua tahun kemudian, atas perintah penguasa Granada, Ibnu Khaldun memimpin misi diplomatik ke Pedrue. Di Seville, ia sebagai perwakilan raja Granada menandatangani perjanjian damai dengan raja Castilla.

Bagi Ibnu Khaldun, perjalanan ini adalah semacam nostalgia karena Seville merupakan kota asal keluarganya. Lebih lanjut, penguasa Castilla ternyata tertarik dengan kecermelangan Ibnu Khaldun, sehingga memintanya untuk menetap di Seville. Bahkan, harta dan rumah keluarga Ibnu Khaldun akan direstorasi sekiranya ia bersedia.

Namun, dengan sopan Ibnu Khaldun menolak permintaan ini. Begitu kembali ke Granada, Ibnu Khaldun mulai merasakan kecemburuan penguasa setempat atas kemasyhuran Ibnu Khaldun di utara. Karena itu, pada 1364, Ibnu Khaldun menerima tawaran seorang sahabatnya dari Dinasti Hafsids yang tersisa, Abu Abdullah, untuk menduduki jabatan perdana menteri. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA