Kamis 30 May 2019 16:43 WIB

Orang Beruntung

Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman.

Takwa (ilustrasi).
Foto: blog.science.gc.ca
Takwa (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ridwan Hasan Putra

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati ke benaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran" (QS al Ashr [103]: 1 – 3).

Pada surah al-Ashr, kita memahami bahwa orang tidak akan merugi jika beriman (mengaktifkan hati), mengerjakan amal saleh (mengaktif kan pancaindra/fisik), dan saling me nasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran (mengaktifkan akal sebanyak dua kali). Berdasarkan surah al-Ashr, manusia tidak akan merugi jika mengaktifkan tiga antena manusia, yaitu hati, pancaindra, dan akal.

Dalam cara berpikir suprarasional, tiga antena ini membentuk bangunan tiga dimensi virtual yang ber fungsi sebagai wadah rezeki untuk menampung rezeki yang datangnya dari langit (rahmat Allah). Jika sese orang imannya kuat, banyak melakukan amal saleh, dan konsisten saling menasihati dalam ketaatan dan kesa baran, wadah rezekinya akan besar sehingga rezeki yang diperoleh atau yang dimilikinya pasti besar. Orang yang seperti ini walaupun tidak terlihat bersusah payah dalam mencari nafkah, rezekinya pasti banyak.

Sebaliknya, jika orang tersebut imannya lemah, amal salehnya se dikit, dan jarang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, wa dah rezeki orang tersebut akan se dikit sehingga rezeki yang diperoleh atau dimilikinya akan sedikit pula. Orang seperti ini walaupun kerja su sah payah membanting tulang siang dan malam, rezeki yang diperolehnya pasti sedikit. Orang seperti ini ter ma suk orang yang merugi karena usaha kerasnya tidak menghasilkan sesuatu sesuai harapan karena wadah rezekinya kecil.

Fakta seperti ini sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita pahami lebih jauh, wadah re zeki itulah sebenarnya penentu be sar atau kecilnya rezeki yang akan diterima, bukan dari usaha atau kerja kerasnya dalam mencari nafkah. Oleh karena itu, marilah kita berlombalom ba untuk memperbesar wadah rezeki ini melalui aktivitas beramal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Rezeki ini tidak harus berupa uang, pangkat, atau jabatan. Rezeki bisa juga berupa anak yang saleh dan pintar, keluarga sehat dan bahagia, dimudahkan dalam berbagai urusan, dll.

Hal yang jauh lebih penting, wa dah rezeki yang dimaksud dalam tulisan ini bukan hanya untuk me nam pung rezeki untuk bekal kepentingan dunia, melainkan juga untuk bekal kehidupan akhirat. Makin banyak re zeki yang ditampung melalui berbagai amal ibadah, akan makin banyak bekal yang dimiliki untuk kehidupan akhirat.

Jika seorang Muslim ingin membuat wadah rezekinya membesar dengan cepat agar bekal hidup yang di milikinya banyak, yang harus dilakukan adalah melakukan perbuatan baik secara berjamaah dan untuk kepentingan orang banyak serta dilakukan pada waktu di mana pintu rahmat dibuka sebesar-besarnya, yaitu pada bulan Ramadhan. Mari manfaatkan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya agar kita tidak menjadi orang yang merugi atau menjadi orang beruntung. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement