Rabu 22 May 2019 22:07 WIB

Merekonstruksi Sejarah Cuaca dengan Nilometer

Peneliti merekonstruksi sejarah El Nino dengan catatan Nilometer

Nilometer
Foto: egypt.go.ev
Nilometer

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu cara untuk mengantisipasi perubahan iklim di masa depan adalah dengan memahami catatan masa lalu. Ilmuwan yang mempelajari perubahan iklim selama ini mengandalkan data iklim masa lalu yang dikumpulkan dari lapisan es di Greenland dan Antartika. Namun, catatan Nilometer juga bisa membantu ilmuwan untuk memprediksi perubahan iklim.

Dua peneliti dari Massachusetts Institute of Technology Elfatih AB Eltahir and Guiling Wang pada 1999 mempelajari sejarah tingkat air Sungai Nil. Keduanya menemukan hubungan yang kuat antara tingkat air Sungai Nil dan fenomena cuaca El Nino.

Baca Juga

Menggunakan catatan Nilometer sampai tahun 622 M, mereka merekonstruksi sejarah El Nino sampai 1.300 tahun lampau. Ternyata, frekuensi El Nino pada 1990-an sangat melebihi apa yang terjadi di masa lalu. Pada periode tahun 700 hingga 1000 M, badai El Nino yang sangat aktif mempunyai frekuensi kejadian yang relatif kecil.

Para peneliti Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) bahkan menggunakan data Nilometer untuk meneliti aktivitas Matahari di masa lampau yang terkait dengan fenomena cuaca. Alexander Ruzmaikin dan Joan Feynman dari Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California, bersama dengan Yuk Yung dari California Institute of Technology pada 2007 menganalisis data ketinggian air Sungai Nil tahunan dari 622 sampai 1470 M. Data ini lalu dibandingkan dengan catatan sejarah lain pada periode sama di tempat lain, yaitu observasi atas penampakan cahaya aurora di belahan Bumi Utara.

Aurora muncul di belahan utara dan selatan Bumi akibat massa yang dilontarkan korona saat terjadi badai Matahari bertemu dengan medan magnet Bumi, bisa menjadi penanda aktivitas Matahari. Ketinggian air Sungai Nil dan catatan aurora mempunyai variasi regular yang mirip dalam periode 88 tahun untuk Nil dan 200 tahun untuk aurora.

Feynman mengatakan bahwa catatan nilometer sangat akurat dan datanya diambil langsung saat kejadian. Sementara, warga di Eropa Utara dan Timur Jauh, punya kebiasaan rutin mencatat fenomena munculnya aurora karena meyakini cahaya langit itu berpotensi mendatangkan bencana, misalnya, kematian raja.

Nil yang airnya bersumber dari Danau Tana di Ethiopia dan Danau Victoria di Tanzania merepresentasikan kondisi Afrika wilayah ekuator. Mengingat iklim Afrika terkait erat dengan variabilitas iklim di Samudra Hindia dan Atlantik, maka data Nilometer bisa dikait kan dengan iklim global.

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research itu, para peneliti NASA menyimpulkan bahwa variasi energi Matahari menimbulkan perubahan pola iklim Bumi yang disebut Modus Annular Utara. Di permukaan laut, fenomena ini dikenal sebagai Osilasi Atlantik Utara yang memengaruhi sir ku lasi udara Atlantik. Selama periode tingginya aktivitas Matahari, osilasi ini juga memengaruhi cuaca di Samudra Hindia yang kemudian memengaruhi sirkulasi udara dan hujan di Sungai Nil. Jika aktivitas Matahari tinggi, ketinggian air Nil lebih rendah dan se ba lik nya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement