Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

DMI: Prisma Fair Bentuk Dakwah Kreatif dan Inovatif

Ahad 19 May 2019 23:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Diskusi dakwah di masjid (ilustrasi)

Diskusi dakwah di masjid (ilustrasi)

Foto: Republika TV
Prisma Fair yang sudah dilaksanakan secara rutin selama 19 tahun

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengapresiasi acara Prisma Fair yang sudah dilaksanakan secara rutin selama 19 tahun oleh Pemuda Remaja Islam Masjid Al Amin (Prisma Al Amin). Prisma Fair 2019 yang mengusung tema Masjid Millennial dilaksanakan di pelataran kantor RRI, Radio Dalam, Jakarta Selatan pada Sabtu (18/5) malam. 

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Rudiantara mengapresiasi apa yang telah dilakukan Prisma Al Amin. Mereka telah secara konsisten menyelenggarakan Prisma Fair setiap tahun. Menurutnya, masjid harus berkembang sebagai tempat ibadah sekaligus tempat kegiatan sosial dan ekonomi.

"Biar bagaimanapun (jamaah masjid) harus bisa mendorong perbaikan dan perkembangan masjid, bukan hanya ibadahnya tapi dalam konteks sosial dan ekonomi, itu yang saya harapkan," kata Rudiantara kepada Republika di sela-sela Prisma Fair 2019, Sabtu (19/5) malam.

Prisma Fair merupakan social activity dan bentuk dakwah anak muda untuk menyebarkan ajaran agama Islam melalui kegiatan kreatif dan inovatif. Prisma Fair 2019 menyajikan tausiyah, bazar murah, sharing session, musik, santunan anak yatim, dan pembagian 1.000 kantong beras untuk kamu dhuafa. Kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya mewujudkan konsep memakmurkan dan dimakmurkan masjid.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) itu, untuk memakmurkan dan dimakmurkan masjid upayanya tidak bisa setengah jalan. Jangan sampai kencleng masjid banyak isinya dan bangunan masjid bagus, tapi masyarakat di sekitarnya kumuh.

"Kalau hanya memakmurkan masjid nanti (bangunan) masjid saja yang bagus, tapi (masyarakat) sekelilingnya kumuh, jadi harus (memakmurkan) dua-duanya," ujarnya.

Ia menjelaskan, masjid sudah jadi tempat berkumpulnya umat Islam sejak zaman Rasulullah. Dulu masjid bukan hanya tempat untuk shalat dan mengaji saja, tapi tempat membahas masalah kemasyarakatan dan sosial. Bahkan area masjid menjadi tempat berdagang.  

Rudiantara berpandangan, sampai saat ini masjid yang sudah bisa melaksanakan kegiatan untuk memakmurkan dan dimakmurkan masjid baru di kota-kota besar saja. Tapi Indonesia beruntung karena 24 persen masyarakat Indonesia sekarang adalah kaum millennial dengan rata-rata usia 20 - 35 tahun. Mereka diharapkan bisa mendorong konsep masjid yang dicanangkan DMI, yakni memakmurkan dan dimakmurkan masjid.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA