Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Kiai Said Cerita Jatuhnya Khilafah dan Efeknya di Tanah Air

Kamis 16 May 2019 21:10 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Ketua Umum PBNU, Prof KH Said Aqil Siroj.

Ketua Umum PBNU, Prof KH Said Aqil Siroj.

Foto: Republika/Fuji E Permana
KH Hasyim Asy'ari ulama pertama cetuskan Cinta Tanah Air pascabubarnya Utsmani.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengungkapkan, pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari, merupakan ulama pertama yang mencetuskan cinta Tanah Air pascabubarnya Kekhalifahan Islam Turki Utsmani (Ottoman). Kiai Hasyim tak ingin negara berdiri tanpa agama.

"KH Hasyim Asy'ari, kakeknya Gus Dur, begitu tahu kekhalifahan bubar, tidak ingin negara ini tanpa agama sampai mencetuskan hubbul wathan minal iman atau cinta Tanah Air sebagian dari iman," kata Said di acara peluncuran buku "Ironi Demokrasi" di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (16/5).

Ketum PBNU mengatakan, umat Islam dulu memiliki kekuatan sentral di bawah kekhalifahan. Khalifah bertanggung jawab atas keberlangsungan hajat hidup umat Muslim sedunia.

Namun seiring pergolakan politik, kata dia, kekhalifahan justru tumbang di tahun 1920-an. Sejumlah unsur umat Islam di berbagai belahan dunia kehilangan pemimpin sentral.

Efek dari berakhirnya kekhalifahan, lanjut dia, juga berdampak terhadap Indonesia yang sedang ada di masa awal kemerdekaan. Jika keadaan dibiarkan bisa saja Indonesia ikut tumbuh sebagai negara yang sekuler atau memisahkan agama dari urusan kenegaraan.

KH Hasyim, menurut Said, terus menggelorakan hubbul wathan minal iman di berbagai tempat. Bahkan saat itu, belum ada satu pun ulama termasuk di Timur Tengah yang memiliki wawasan cinta Tanah Air sebagian dari iman.

Said mengatakan salah satu dampak menggelorakan cinta Tanah Air oleh KH Hasyim membuat Indonesia dapat tumbuh sebagai negara yang nasionalis tapi tetap memegang teguh nilai-nilai keagamaan hingga era modern seperti saat ini. "Dia hanya yang mengajak nasionalis beragama. Di Timur Tengah tidak ada. Intinya jangan sekuler," kata dia.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA