Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Menggali Makna Lapar, Menuju Puasa yang Sesungguhnya

Kamis 16 Mei 2019 20:34 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ilustrasi Ramadhan

Ilustrasi Ramadhan

Foto: Pixabay
Lapar menyinari hati, membersihkan jiwa, itulah makna puasa yang sesungguhnya

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Abdul Hadi WM

Baca Juga

Penyair-sufi Jalaluddin Rumi berkata, "Jangan biarkan jiwa mengemis pada tubuh. Jangan biarkan kebenaran takluk pada ketidakbenaran."

Oleh karena itu, hujjatul islam Imam al-Ghazali menafsirkan, yang dimaksudkan sebagai gambar binatang dalam sebuah hadis ("Barang siapa yang memasang gambar binatang di tembok rumahnya, tidak akan didatangi malaikat!") ialah sifat kebinatangan yang terpampang di dinding jiwa manusia.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Buatlah perut-perutmu lapar, dan hatimu haus, dan jasadmu telanjang (tak ditutupi hawa nafsu), maka hatimu akan menyaksikan kebenaran dan kehadiran Tuhan di dunia ini."

Sabda Nabi SAW tersebut sering dikutip para sufi, sebagaimana kita jumpai dalam kitab Kasyf al-Mahjub ('Ketersingkapan dari Hijab') karangan Syekh Ali Utsman al-Hujwiri, seorang salik abad ke-11 asal Afghanistan.

Dia memberi penjelasan sebagai berikut.

"Lapar memang membuat badan menderita, tetapi pada saat yang sama menyinari hati dan membersihkan jiwa, serta mengantarkan roh ke hadirat Tuhan." Itulah makna puasa yang sebenarnya.

Sebaliknya makan kenyang memang membuat tubuh senang dan berisi. Namun, sering terlupa bahwa makan kenyang mendatangkan banyak kelemahan bagi jiwa.

Apalagi, jika makanan itu diperoleh dengan jalan yang tidak benar, pengaruhnya pun kian buruk bagi jiwa seseorang.

"Dulu pada zaman permulaan agama Islam, orang Islam makan untuk hidup, tetapi kini banyak orang Islam hidup untuk makan," kata sang sufi lagi.

Selama melaksanakan ibadah puasa, sebenarnya banyak orang merasakan pencerahan sebagaimana dikemukakan al-Hujwiri itu: hatinya bersinar-sinar, jiwanya merasa ringan dari beban dunia yang menekan, serta memiliki kekuatan yang tidak diperolehnya di luar Ramadhan.

Namun, sayang, pengalaman spiritual yang tak ternilai harganya itu tidak diaktualisasikan dengan sungguh-sungguh oleh kebanyakan orang yang berpuasa.

Nanti setelah bulan Ramadhan lewat, banyak orang lupa bahwa ia pernah melakukan mujahadah satu bulan penuh dengan pengorbanan yang tak sedikit.

Pengorbanan itu termasuk memborong santapan lezat untuk buka puasa dan sahur, persiapan Lebaran, jamuan makan buka puasa bersama dengan handai-taulan, yang kadang memerlukan biaya jutaan rupiah. Karena itu, baik juga kita simak kata-kata Rumi berikut.

Puasa adalah upacara kurban kita,

Ia adalah kehidupan bagi jiwa kita,

Mari kita kurbankan (kepentingan) badan kita,

Karena jiwa telah datang sebagai tamu agungnya.

 

Iman yang teguh adalah himpunan awan lembut,

Kearifan adalah hujan yang tercurah darinya,

Sebab di bulan keimanan inilah Al-Quran diwahyukan,

Jika nafsu badani dikendalikan, roh bisa mi'raj ke langit,

Jika pintu penjara dirubuhkan, jiwa mencapai pelukan Kekasih.

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Hidangan langit telah tersedia. Lupakan sejenak santapan duniawi.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA