Selasa 30 Apr 2019 20:01 WIB

Agar Puasa Ramadhan tak Sia-sia

Supaya puasa Ramadhan tak sia-sia, menjauhlah dari perbuatan yang batalkan pahala

Ilustrasi Ramadhan
Foto: Reuters/Amr Abdallah Dalsh
Ilustrasi Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang diperolehnya dari puasa itu kecuali hanya lapar dan haus saja (tak berpahala)." Demikian diriwayatkan Nasa'i dan Ibnu Majah.

Ada perbedaan di antara para ulama dalam memaknai hadis ini. Sebagian berpendapat bahwa orang yang hanya mendapat lapar dan haus dari puasanya adalah orang yang berbuka dengan makanan haram.

Baca Juga

Ada pula yang mengatakan bahwa orang itu adalah mereka yang menahan diri dari makanan halal, lalu berbuka dengan memakan daging manusia, sebab ia senang ber-ghibah. Ada pula yang mengartikan bahwa orang tersebut adalah mereka yang tidak menjaga anggota badannya dari perbuatan maksiat.

Semua pendapat tersebut boleh jadi benar, karena berbuka dengan makanan haram, ber-ghibah, dan tidak menjaga anggota badan dari berbuat maksiat adalah perbuatan haram. Dan, inilah yang diungkapkan Imam Al Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin bab Shaum.

Pertanyaannya, bagaimana agar kita tidak termasuk orang yang berpuasa, tapi tidak mendapat apapun selain lapar dan haus? Dengan kata lain, bagaimana agar ibadah puasa ini bisa mengantarkan kita pada derajat takwa, seperti terungkap dalam QS Al Baqarah ayat 183?

 

Jalan supaya Puasa tak Sia-sia

Setidaknya ada empat hal yang harus kita lakukan. Pertama, memperbarui niat (tajdidun niyat). Rasul SAW mengungkapkan bahwa setiap amal tergantung pada niat dan setinggi-tingginya amal adalah yang ikhlas. Jadi, agar tidak merugi dalam puasa, kita harus meluruskan niat puasa ini.

Niat kita seratus persen hanya untuk Allah. Bukankah Allah SWT berfirman dalam sebuah hadis Qudsi, "Maka puasa itu adalah karena Aku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya" (HR Bukhari Muslim).

Kedua, persiapan ilmu. Agar puasa kita tidak sia-sia kita harus memiliki ilmunya, termasuk di dalamnya fikh shaum yang mengajarkan syarat, rukun, dan hal yang dapat membatalkan puasa. Semakin kita paham serba-serbi ibadah puasa, niscaya akan semakin mantap dan berkualitas pula puasa kita.

Sebaliknya tanpa ilmu itu, puasa kita tak akan berkualitas. Imam Ali bin Abi Thalib KW berkata bahwa sebuah amal yang tanpa didasari ilmu, maka amal tersebut tertolak.

Ketiga, menahan diri dari hal yang membatalkan dan menghilangkan pahala puasa (al-imsak). Kemampuan menahan diri adalah buah dari ilmu. Apa saja yang membatalkan puasa? Di antaranya makan, minum, muntah dengan sengaja, berhubungan suami istri di siang hari, ataupun mengubah niat.

Lalu apa yang membatalkan pahala puasa? Itu banyak berkaitan dengan tidak terjaganya anggota badan, pancaindra, bahkan hati dan pikiran dari maksiat. Bergunjing, dusta, memfitnah, melamunkan hal-hal negatif, melihat hal yang diharamkan, mencuri, marah. Itu semua termasuk perbuatan yang membatalkan pahala puasa.

Keempat, menghidupkan Ramadhan dengan amalan-amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW (al-ihya ar-Ramadhan). Ramadhan adalah bulannya Alquran (syahrul Quran), maka kita hidupkan Ramadhan ini dengan membaca, menghafal, mengkaji, mengajarkan, dan mengamalkan Alquran tersebut.

Ramadhan adalah bulan puasa (syahrul shiyam), maka kita hidupkan Ramadhan dengan berpuasa dan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Ramadhan adalah bulan kasih sayang (syahrul rahmah), maka kita hidupkan Ramadhan dengan saling menyayangi, saling memaafkan, dan saling memberi. Ramadhan pun adalah bulan amal (syahrul 'amal), maka kita hidupkan Ramadhan ini dengan amal-amal kebajikan. Wallahu a'lam bish-shawab.

sumber : Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement