Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Fatimah Binti Khatab Sosok di Balik Islamnya Umar

Kamis 04 Apr 2019 09:19 WIB

Red: Agung Sasongko

Gurun pasir (ilustrasi)

Gurun pasir (ilustrasi)

Foto: tangkapan layar Reuters/David Rouge
Fatimah Binti Khatab sosok yang teguh berislam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama Fatimah banyak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. Sejumlah tokoh berpengaruh dan terhormat menggunakan nama tersebut. Di antara nama-nama itu, terdapat putri bungsu Nabi, Fatimah az-Zahra. Ibun da Ali bin Abi Thalib juga ber nama Fatimah binti Asad. Satu lagi nama yang terkemuka saat itu ialah Fatimah binti Khatab.

Nama yang terakhir ini tak lain ialah saudara perempuan kandung dari sahabat tersohor, Umar bin Khatab. Ia adalah sosok yang berjasa. Ia berada di balik Islamnya Khalifah yang berjuluk Singa Padang Pasir itu. Dalam hitungan akal, sulit menaklukkan hati Umar, yang konon, penentang utama dari Quraisy akan kehadiran Islam. Sang kakak yakin betul akan agama nenek moyangnya. Atas alasan inilah, Fatimah bersama suaminya, Said bin Zaid, berikrar syahadat sembunyi-sembunyi.

Kronologi ketertarikan Khalifah Kedua tersebut terhadap Islam sangat ironis. Dikisahkan, Umar kala itu tengah menghunus pedang tajam. Ia berpapasan dengan seorang pria dari Bani Zahrah. Saat ditanya tujuannya, ia mengatakan hendak membunuh Rasulullah. Sontak, pria itu terkejut dan mengingatkan Umar, bila niatnya itu terlaksana, Bani Hasyim dan Bani Zahrah akan menuntut balas.

Sang pria mencoba mengalihkan perhatian Umar. Ia membuat rasa pe nasaran Umar memuncak. “Wahai Umar, sebaiknya kamu pergi menemui saudara perempuanmu dan suaminya. Karena sesungguhnya mereka itu telah meninggalkan agama nenek moyangnya dan beriman kepada ajaran Muhammad yang hendak kamu bunuh itu!’’

Mendengar adik perempuan yang disayanginya telah masuk Islam, Umar marah besar. Jiwanya penuh dengan emosi. Urung bertandang ke Nabi, ia pun mengalihkan tujuannya ke kediaman Fatimah. Umar mendengar alunan ayat-ayat Alquran. Rupanya, pasangan suami-istri ini sedang belajar mengaji kepada Khabab bin al-Arat. Dari balik pintu, Umar mendengarkan dengan saksama suara-suara yang bersumber dari dalam rumah adiknya tersebut.

Sebelum Umar masuk ke dalam rumah, Khabab telah bersembunyi. Begitu pintu dibuka, Umar berteriak, “Suara apa yang tadi aku dengar?’’ Sambil menyembunyikan lembaran-lembaran Alquran, Fatimah berkilah tak ada suara apa pun. Umar tak percaya begitu saja. Keduanya beradu mulut. Fatimah bertanya kepada kakaknya, “Ya Umar, adakah engkau mendengar sesuatu?’’ Umar menjawab dengan emosi, “Demi tuhan aku telah mendengar kabar bahwa kalian telah mengikuti ajaran Muhammad!’’

Jawaban Umar diikuti pukulan kepada adik iparnya. Fatimah berusaha menghalangi suaminya, tetapi pukulan serupa mendarat di wajahnya. Darah segar pun mengalir. Menghindari kemurkaan yang lebih hebat, Fatimah dan suaminya pasrah mengaku telah masuk Islam.

Darah yang mengucur di wajah Fatimah menyadarkan Umar. Emosinya mulai reda, lalu mengatakan, “Berikan kepadaku lembaran yang kalian baca tadi agar aku dapat me lihat apa yang dibawa Muhammad sehingga membuat adikku mengikuti nya.’’ Fatimah menjawab, “Kami takut engkau akan bersikap kasar terhadap Muhammad.’’ Umar berjanji atas nama berhalanya tidak akan marah. Seusai membacanya, ia akan segera mengembalikannya.

Fatimah menjawab keinginan kakaknya dengan cerdas dan bijak. “Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau najis karena kesyirikanmu, sedangkan lembaran ini tidak boleh disentuh, kecuali oleh orang-orang suci. Karenanya, mandilah terlebih dahulu sebelum menyentuh lembaran ini.’’

Untuk memenuhi rasa penasar annya, Umar mengikuti apa yang disyaratkan Fatimah. Seusai mandi, Fatimah memberikan lembaran ayat- ayat Alquran itu kepada ka kak nya. Dalam lembaran itu tertulis ayat 1-8 surah Thaha. “Thaha … Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut kepada Allah. Yaitu, Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy ….’’ Di luar dugaan, Alquran meluluhkan hati Umar.

Dia mengatakan, “Betapa indah dan mulianya Kalam ini.’’ Riwayat lain menyebutkan, Fatimah enggan menyerah kan mushaf tersebut. Oleh Fa ti mah, ayat-ayat tersebut dibacakan. Lantunan ayat itu pun tanpa sadar telah membuat air mata Umar terurai.

Perjuangan yang sukses

Perubahan drastis dari sosok Umar membuat Khabab keluar dari persembunyiannya. Khabab berkata, “Ya Umar, sesungguhnya aku berharap engkau menjadi orang yang diistimewakan Allah karena doa Rasulullah. Aku mendengar beliau berdoa, “Ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abil Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khatthab.’’ Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai Umar.

Umar meminta Khabab menunjukkan di mana Rasulullah berada karena ia ingin segera berikrar. Khabab segera mengantarkan Umar menuju kepada Rasulullah. Nabi Muhammad tengah berada di kediaman Arqam bin Abil Arqam, tak jauh dari Bukit Shafa.

Kabar berita Umar masuk Islam di sambut gembira oleh Rasulullah dan para sahabat. Setelah Hamzah dan Umar bin Khatthab masuk Islam, dakwah pun dilakukan secara terangterangan. Mereka yakin, Ham zah dan Umar akan menjadi pelindung Rasulullah dari serangan para musuh.

Begitulah perjuangan Fatimah binti Khatab bin Nufail al-Makh zumi al-Quraisy. Ia berhasil menyampai kan hidayah Allah kepada kakakkan dungnya. Tak peduli darah meng alir, Fatimah tetap tegar dan istiqa mah terhadap Islam. Selama hi dup nya, Fatimah rajin beribadah dan berdakwah memper juangkan Islam. Ia beruntung mendapat karunia be rupa panjang umur. Ia menyaksikan Umar menjadi Khalifah menggantikan Abu Bakar as-Shiddiq.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA