Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Kisah Imam Muda di Inggris Perangi Budaya Geng

Ahad 14 Apr 2019 15:20 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Ani Nursalikah

Imam muda di Inggris, Noor Hadi.

Imam muda di Inggris, Noor Hadi.

Foto: Standard.co.uk/Megan White
Imam Muda ini menceritakan bagaimana komunitas Islam mencegah radikalisasi.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Salah satu komunitas Muslim di Inggris mencegah radikalisme dan budaya geng dengan Islam. Imam muda di Inggris, Noor Hadi menceritakan bagaimana komunitas Islam telah mencegah radikalisasi dan budaya geng dengan program penjangkauan kaum muda.

Pria berusia 23 tahun itu bergabung dengan Masjid Baitul Futuh, Morden, London melakukan pekerjaan ekstensif untuk memberantas ekstremisme. Gerakan itu mengajarkan perdamaian, cinta dan harmoni, serta pentingnya keadilan.

Pengurus masjid yang berdiri sejak 1889 itu bekerja sama dengan komunitas Islam dan generasi muda setempat, seperti kerja bakti, donor darah, dan penggalangan dana untuk Seruan Poppy. Hadi sendiri sudah menghabiskan 6,5 tahun di Jamia Ahmadiyya UK, yakni sebuah perguruan tinggi Islam yang dibangun khusus. Hadi mengatakan komunitasnya memiliki 40 ribu anggota di Inggris. Dia membanggakan komunitasnya tidak pernah menjadi mangsa radikalisme atau ekstremisme atau melakukan tindakan terorisme.

Menurut dia, ada sejumlah sebab atas kondisi itu, pertama komunitasnya memiliki rasa kepemimpinan, tidak seperti komunitas Muslim lainnya. “Kami memiliki pemimpin spiritual yang memimpin dengan memberi contoh,” kata Hadi dilansir di Standard.co.uk, Sabtu (13/4).

Kedua, komunitas itu memiliki organisasi pelengkap yang dibentuk untuk anak-anak sejak usia empat atau lima tahun hingga remaja. Organisasi itu ditujukan untuk laki-laki dan perempuan Muslim. “Kami ingin mengingatkan mereka Islam mengajarkan perdamaian, dan ini adalah ajaran Islam yang sebenarnya,” ujar dia.

Selain itu, Hadi mengatakan komunitas juga mengajarkan agar anggota menjadi warga negara setia di negara tempatnya tinggal. “Jika seorang anak diajarkan hal ini sejak usia sangat muda, tidak hanya dia mendengar ini terus-menerus, tetapi kami juga melibatkan mereka dalam komunitas,” kata dia.

Hal itu membuat seseorang tidak akan pernah menyakiti masyarakat, karena Muslim merasa menjadi bagian dari lingkungan itu. “Saat ini, di London, anda lihat banyak kejahatan pisau dan budaya geng, dan saya pikir menjadi bagian dari komunitas ini mencegah banyak hal,” ujar Hadi.

Dia beranggapan, usia muda membuat seseorang ingin menjadi bagian dari kelompok yang lebih besar. Anak muda yang kesepian bisa menjadi mangsa terlibat dalam budaya geng yang menjauhkannya dari Tuhan.

Hadi tertarik mengubah narasi seputar Islam yang memiliki pandangan negatif. Dia percaya media memiliki peran besar untuk menggerakkan sudut pandang seseorang tentang Islam. Dia beranggapan Iilamofobia berkembang pada lingkungan kelompok yang kurang terbuka pola pikirnya.

“Tidak ada yang bisa menangkal dia, meskipun kita menjangkau banyak orang, dan itu menyedihkan, karena itu mengarah pada hal-hal seperti serangan Selandia Baru,” kata Hadi.

Hadi berperan sebagai jembatan untuk berdialog atau mencoba menjawab pertanyaan yang mungkin ditakuti orang-orang. Namun, salah satu tantangan terbesarnya adalah tidak bisa menunjukkan betapa indahnya Islam karena Hadi hanya menjawab stereotip negatif sepanjang waktu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA