Senin 25 Mar 2019 15:13 WIB

Menerima Takdir Kematian

Kematian merupakan kepastian.

Kematian (ilustrasi)
Foto: Dailymail.co.uk
Kematian (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Iu Rusliana

Kematian merupakan kepastian. Setiap makhluk yang bernyawa akan merasakan ajalnya. Saat kehilangan anggota keluarga, kesedihan mendalam dan rasa kehilangan pasti terhunjam dalam jiwa. Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT berfirman: Bagi hamba-Ku yang beriman, apabila diambil keluarganya dari dunia kemudian ia bersabar, tidak ada balasan untuknya selain surga." (HR Bukhari). 

Misteri kehidupan yang membutuhkan keimanan dan persiapan lebih dari cukup untuk sebuah perjalanan panjang. Bekalnya berupa iman yang kokoh dan amal kebaikan. Bagi yang masih hidup, cita-cita perjuangan menebar kebaikan harus dilanjutkan.

Belajar dari wafatnya yang terkasih, baginda Rasulullah SAW, isyarat dekatnya ajal beliau dimulai ketika beliau iktikaf selama 20 hari pada bulan Ramadhan tahun 10 H. Malaikat Jibril mengulang Alquran hingga dua kali dalam tahun itu bersama beliau. Kemudian di Padang Arafah, saat haji wada Rasulullah bersabda, "Aku tidak tahu pasti. Barangkali setelah tahunku ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat wukuf ini untuk selamanya." 

Pada akhir Shafar 11 Hijriyah, beliau sakit. Sepanjang hari-hari sakitnya beliau banyak berwasiat, di antaranya beliau berpesan kepada umatnya tentang dunia. 

Janganlah berlomba-lomba mengejar dunia. Agar dunia tidak membuat umatnya binasa sebagai mana umat-umat sebelumnya binasa karena dunia. Sehari sebelum wafat, beliau bersedekah beberapa dinar. Lalu bersabda, "Kami (para nabi) tidak mewariskan. Apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah." (HR Bukhari). 

Pada Senin, Rabiul Awal 11 Hijriyah, Rasulullah wafat. Bumi kehilangan orang yang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di atasnya. Wafat setelah menyempurnakan risalah dan menyampaikan amanah. Wafatnya manusia paling mulia tersebut menyisakan duka yang sangat mendalam bagi para sahabat dan keluarga. Dunia terasa gelap bagi mereka. 

Hati mereka bergoncang. Tak percaya bahwa kekasih mereka telah tiada. Di tengah ketidakpercayaan mereka, lalu Abu Bakar hadir dan berkata, "Siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad SAW maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan wafat." Kemudian Abu Bakar membacakan Alquran surah Ali Imran ayat 144. Wallaahu a'lam. 

sumber : Hikmah Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement