Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Awal Mula Seluruh Yaman Memeluk Islam (1)

Selasa 19 Mar 2019 16:01 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(ilustrasi) peta Yaman

(ilustrasi) peta Yaman

Foto: tangkapan layar google
Sebelum Islam datang, Yaman dikuasai kerajaan Persia yang dipimpin raja Majusi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam menjadi penentu yang penting dalam menstabilkan Yaman untuk jangka waktu panjang. Masuknya risalah tersebut tidak lepas dari peristiwa Sayf bin Dziyadzn.

Baca Juga

Dia merupakan pemuka Yaman yang hendak merebut kembali tampuk kekuasaan dari keturunan Habasyah (Etiopia). Untuk itu, dia pergi ke Persia. Tujuannya, hendak meminta balabantuan dari Raja Kisra dari Sassania.

Setelah melalui pelbagai kendala, akhirnya kaisar beragama Majusi itu setuju. Namun, begitu orang-orang Habasyah terusir dari Yaman, yang jadi penguasa sesungguhnya justru Sassania. Kaisar tersebut menjadikan Sayf bin Dziyadzn hanya sebagai pemimpin boneka.

Maka sejak saat itu, Yaman berada dalam pengaruh Persia. Mayoritas penduduk beragama Majusi. Gubernur Yaman berturut-turut adalah keturunan jenderal yang diutus Kisra untuk mendampingi Sayf bin Dziyadzn.

 

Islam Masuk ke Yaman

KH Moenawar dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW (jilid IV) mengungkapkan, sesudah menyepakati Perjanjian Hudaibiyah dengan kubu Quraisy, Rasulullah SAW mulai mengirimkan surat kepada raja-raja non-Arab, termasuk kaisar Byzantium dan Persia.

Tujuannya untuk mengajak mereka masuk Islam. Surat Nabi SAW kepada Heraklius dibawa Dihyah al-Kalbi. Raja Byzantium itu menerimanya dengan penuh penghormatan, tetapi enggan menjadi Muslim.

Raja Kisra Abrawiz dari Persia juga menolak masuk Islam, tetapi dengan cara yang angkuh. Pemimpin beragama Majusi itu merobek surat Rasulullah SAW.

Utusan yang mengantarkan surat itu kepadanya, yakni Abdullah bin Huzafah, juga diperlakukan dengan hina. Begitu mengetahui kabar ini, Nabi SAW berdoa, “Kisra telah mengoyak-oyak kerajaannya. Ya Allah, pecah-belahlah oleh Engkau kerajaannya.”

Dalam keadaan murka, kaisar Persia itu menyuruh menterinya untuk menulis surat kepada gubernur Yaman saat itu, Badzan bin Sasan. Isinya menginstruksikan agar dia menangkap dan membawa Nabi Muhammad SAW kepadanya.

Sebab, Kaisar ingin menghukum orang yang dinilainya sungguh keterlaluan itu. Dia berpikir, bagaimana mungkin seorang raja Persia mengikuti ajaran pihak lain, sementara dirinya mengaku-aku tuhan di hadapan rakyat Persia sendiri—persis Firaun pada zaman Nabi Musa AS.

Selang beberapa waktu kemudian, Badzan menerima surat yang dimaksud. Perintah yang ada siap dilaksanakan. Diutuslah beberapa orang ke Madinah. Perjalanan yang cukup panjang ditempuh. Setelah bertanya-tanya kepada penduduk setempat, sampailah mereka ke hadapan Nabi SAW.

(bersambung)

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA