Sabtu 16 Mar 2019 18:08 WIB

Waspadai Hadis Palsu Soal Rajab

Banyak hadis mengenai Rajab yang berstatus palsu.

Mewaspadai Hadis Palsu
Foto: cover buku awas hadits palsu
Mewaspadai Hadis Palsu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Pusat Kajian Hadis (PKH) DR Ahmad Lutfi Fathullah menjelaskan tentang beberapa hadis mengenai Rajab yang berstatus palsu. "Sesungguhnya Rajab itu bulannya Allah dan Sya'ban itu bulanku dan Ramadhan itu bulan umatku."

Hadis tersebut dinilai maudu' atau palsu oleh Ibnu al-Jawzi, Ibn Qayyim, Ibn Hajar, dan banyak ulama hadis lain. Hadis itu disebut palsu karena adanya nama Ali ibn Abdullah ibn Jahdam al-Suda'i atau Ibn Jahdam. Dia dituduh sebagai pendusta oleh beberapa ulama. Sementara itu, beberapa perawi lainnya dalam sanad ini tidak dikenal. Beberapa ulama hadis bahkan mengungkapkan bahwa mereka belum dilahirkan.

Baca Juga

"Barang siapa yang menghidupkan (dengan ibadah) malam pertama pada bulan Rajab maka hatinya tidak akan mati ketika hati-hati mati. Allah akan taburkan kebaikan dari atas kepalanya dan dia akan keluar dari dosa-dosanya bagaikan baru dilahirkan dari rahim ibunya, dan dia akan diberikan hak untuk memberi syafaat kepada 70 ribu orang-orang yang berdosa yang sudah harus masuk neraka."

Tidak ditemukan perawi dalam hadis tersebut, termasuk dalam kitab karangan Ibn Hjar dan Ali al-Qari yang berisi tentang bulan Rajab. Hadis tersebut juga bisa dihukumi palsu karena tidak terdapat hadis mengenai keutamaan bulan Rajab, berpuasa di dalamnya, berpuasa pada harihari tertentu di dalamnya, dan beribadah pada malam-malam tertentu pada bulan itu. Adanya status palsu dalam hadis tersebut juga karena tidak terdaftar dalam beberapa hadis yang dhaif yang disebutkan Ibnu Hajar.

"Barang siapa yang shalat setelah Maghrib pada malam bulan Rajab, 20 rakaat, membaca setiap rakaatnya Surah Alfatihah dan al- Ikhlas, dengan 10 salam, maka Allah akan menjaganya dan men jaga orang, rumah, dan keluarganya dari bala dunia dan azab akhirat."

Ibnu al-Jawzi menyebutkan hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Jawzaqani dari Anas ibn Malik. Beberapa ulama seperti Ibn al-Jawzi, Ibn Qayyim, Ibn Hajar, hingga al-Suyuti. Pasalnya, para perawi dalam sanad hadis tersebut tidak dikenal. n wallahualam

sumber : Dialog Jumat Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement