Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Kisah Muslim Denmark Hadapi Diskriminasi

Senin 04 Mar 2019 16:16 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslimah Denmark

Muslimah Denmark

Foto: cbslife.dk
Kasus diskriminasi etnis minoritas merupakan kasus terbesar dalam 10 tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penasihat khusus HAM Muslim Denmark, Nanna Margrethe Krusaa, menegaskan, diskriminasi institusional yang diterima oleh etnis minoritas dalam dunia kerja ini disebabkan oleh kecenderungan dari pengusaha yang mempekerjakan karyawan yang berlatar belakang sama dengan dirinya.

Ia mengakui, organisasinya kesulitan membuat pengusaha mematuhi hukum dan mengesampingkan latar belakang etnis dan agama dalam seleksi karyawan. Hal ini menunjukkan kekurangan dari sistem integrasi Denmark.

Menurut laporan terbaru dari Institute for Human Rights Denmark, seseorang dengan nama Timur Tengah lebih banyak memperoleh diskriminasi dibandingkan dengan seseorang yang memiliki nama Denmark.

Morten Dalsgaard, seorang mahasiswa asal Turki, mengaku kesulitan menemukan apartemen di Aarhus. Pemilik apartemen melihat nama orang dan cenderung tidak menghubungi kembali jika namanya asing.

Namun, menurut dia, pencarian apartemen yang ia alami jauh lebih mudah daripada temannya. Ini bukan satu-satunya diskriminasi orang dengan nama Timur Tengah di Denmark.

Cerita Matthias Hejlskov yang lahir di Swedia lain lagi. Ia bekerja di Denmark, di perusahaan khusus teknologi informasi (TI). Di tempat kerja, ia memiliki rekan Timur Tengah yang harus mengubah nama mereka karena pelanggan akan bereaksi secara berbeda terhadap nama-nama non-Denmark.

Pemimpin Dokumentasi dan Pusat Penasihat Diskriminasi Rasial Denmark Niels Erik Hansen menambahkan, kasus diskriminasi etnis minoritas merupakan kasus terbesar dalam 10 tahun terakhir.

Hal itu terjadi karena adanya aturan hukum dari Pemerintah Denmark yang semakin merugikan imigran etnis minoritas. "Hukum yang memengaruhi orang asing telah menjadi semakin ketat," katanya.

Aturan ketat

Menurut surat kabar Denmark pada 7 Desember lalu, pemerintah mengakui, negara mereka memiliki aturan ketat terhadap negara tetangga.

Penelitian oleh agen tenaga kerja negara Denmark memberikan sedikit informasi tentang Muslim di pasar tenaga kerja Denmark. Mereka melakukan penelitian terkait adanya indikasi Muslim kurang unggul dari warga negara Denmark di pasar kerja.

Menurut Open Society Institute (OSI), etnis minoritas kurang memiliki keterampilan di tempat kerja. Namun, menurut penelitian Tranæs & Zimmerman, diskriminasi merupakan faktor penting dalam pengalaman imigran di pasar tenaga kerja.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA