Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Diskriminasi Jadi Tantangan Umat Islam di Denmark

Senin 04 Mar 2019 16:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslim Denmark

Muslim Denmark

Foto: EPA
Muslim minoritas di Denmark tidak mengalami diskriminasi di ruang publik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam merupakan agama minoritas di Denmark.
Kendati demikian, tak ada angka pasti berapa jumlah populasi Muslim di Denmark Tak ada aturan yang mewajibkan penduduk mencatat agamanya. Hanya, memang diperkirakan kurang lebih ada 200 ribu Muslim dari total penduduk Denmark.

Namun, tahun ini Komite PBB menyatakan keprihatinan terkait diskriminasi dan rasialisme di Denmark. Para ahli mengklaim bahwa diskriminasi institusional terjadi di sektor kerja, properti, dan dalam proses membentuk kewarganegaraan.

"Saya sudah tinggal di Denmark selama 24 tahun. Dan, sampai sekarang saya belum bisa mendapatkan kewarganegaraan. Aku masih memiliki paspor pengungsi. Ini rasialis!  Saya memiliki kerabat di Jerman, Prancis, Swedia, dan Inggris di mana mereka menjadi warga negara secara otomatis setelah empat sampai lima tahun residensi otomatis," kata Majeed Essam seperti dilansir one-europe.info.

Majeed Essam dan keluarganya melarikan diri dari Perang Kuwait ke Denmark pada 1991. Ia memiliki toko manisan di Bazar Vest. Tetapi, seperti 43 persen dari populasi etnis minoritas di negara itu, ia merasa bahwa ia adalah korban diskriminasi karena latar belakang etnisnya.

Menurut Dewan Penasihat Rasisme, Bashy Quraishy, diskriminasi institusional dan struktural menciptakan masalah yang begitu besar bagi etnis minoritas. Ia menjelaskan, Muslim minoritas di Denmark tidak mengalami diskriminasi di ruang publik. Namun, diskriminasi karena etnis didapatkan saat ingin mencari tempat tinggal, mencari pekerjaan, dan mendapat kewarganegraan.

Komite PBB untuk laporan diskriminasi rasial juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai diskriminasi institusional yang dihadapi oleh etnis minoritas Denmark ini.

Sementara itu, Mohammad Aoud imigran asal Lebanon, Palestina, telah tinggal di Denmark selama 13 tahun. Ia mengaku kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan sebagai seorang imigran di Denmark.

"Sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Orang Denmark tahu bahwa ada pengungsi yang lahir di sini dan bukan warga negara Denmark," katanya.

Mohammed Aoud sekarang bekerja sebagai tukang daging di Bazar Vest. Ia sulit mendapatkan pekerjaan. Denmark adalah sebuah negara kecil. Tidak ada banyak pekerjaan di sini.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA