Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Mulanya Dakwah Islam di Bosnia-Herzegovina (2)

Senin 25 Feb 2019 17:28 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Sebuah masjid di Bosnia.

Sebuah masjid di Bosnia.

Foto: AP
Ada beberapa dugaan motif perpindahan agama ke Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 28 Juni 1389, pasukan Muslim berhasil menaklukkan Raja Serbia, Lazar. Dia seorang Kristen Ortodoks yang lahir di Kosovo.

Baca Juga

Setelah penaklukan itu, posisi Bosnia kian lemah dari sisi internal. Apalagi, dengan kemunculan Stephen Vukcik, yang mendeklarasikan pemisahan Herzegovina pada 1448.

Tiga tahun kemudian, Vrhbosna (kini Sarajevo) dapat dikuasai Turki Utsmaniyah. Barulah pada 1465 dan 1481, wangsa Muslim itu berhasil menaklukkan berturut-turut Bosnia dan Herzegovina.

Schuman dalam Nations in Transition: Bosnia and Herzegovina (2004) menjelaskan, para sultan Utsmaniyah menerapkan kebijakan yang toleran. Turki melindungi hak-hak orang non-Muslim di wilayah taklukan, sehingga seluruh rakyat yang majemuk dapat hidup secara wajar.

Gelombang perpindahan agama diakui terjadi. Para sejarawan menduga adanya pelbagai motif penduduk setempat untuk menjadi Muslim.

Di antaranya adalah, mereka ingin mempertahankan hak-hak istimewa. Artinya, mereka menghendaki status quo di level sosial tetap ada, sekalipun penguasa politiknya berganti. Kecenderungan ini menguat terutama bagi kaum pengikut Bogomilisme.

Mereka memandang, menjadi seagama dengan penguasa setempat akan lebih menguntungkan. Selain itu, sejak awal memang orang-orang Bogomilisme sudah berjarak dengan pusat dunia Katolik dan Kristen Ortodoks. Itulah sebabnya mereka cenderung menerima Islam.

Motif lainnya berkaitan dengan pemberlakuan sistem devsirme. Sistem itu mewajibkan setiap laki-laki dewasa untuk mengabdi kepada pemerintahan Utsmaniyah. Aturan itu berlaku, baik di lingkup sipil maupun militer. Dugaannya, orang-orang Bosnia yang mengikuti devsirme lantas beralih iman menjadi Islam.

Bagaimanapun, para sultan Utsmaniyah lebih mementingkan meritokrasi ketimbang kesamaan identitas agama. Sebagai contoh, ada seorang Kristen Ortodoks yang bernama Sokolovic.

Dia terpilih untuk dikirim ke ibu kota Kesultanan Utsmaniyah, Istanbul, demi melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Sokolovic kemudian menjadi seorang Muslim. Bahkan, dia pada akhirnya meraih posisi wazir utama.

Schuman menyebut, secara garis besar, agama Kristen masih dipeluk kalangan petani, sedangkan kelas menengah dan kelas atas Bosnia-Herzegovina condong pada Islam.

Baca juga: Mulanya Dakwah Islam di Bosnia-Herzegovina (3)

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA