Jumat 22 Feb 2019 18:36 WIB

Perbaiki Minat Baca Masyarakat Indonesia

warga Indonesia hanya memiliki skor minat baca 0,001 persen.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Agung Sasongko
Direktur Utama Penerbit Al-Mawardi Prima Afrizal Sinaro
Foto: ROL
Direktur Utama Penerbit Al-Mawardi Prima Afrizal Sinaro

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. United Nations of Educational Scientific and Cultural Organization (UNES CO) mencatat, warga Indonesia hanya memiliki skor minat baca 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang, cuma satu yang rajin membaca.

Untuk itu, kehadiran Islamic Book Fair (IBF) diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat. "Yang dimaksud literasi itu paham, tahu, dan bisa mengamalkannya. Jadi, ketika orang terliterasi tahu mana yang salah, dia tidak akan melakukannya. Kalau orang tidak terliterasi, dia tahu itu salah namun tetap melakukannya," kata Ketua Dewan Pertim bangan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta Afrizal Sinaro kepada Republika.co.id belum lama ini.

Ia melanjutkan, literasi yang diangkat oleh IBF ini memiliki makna dalam, apalagi bagi umat Islam. Dia menjelaskan, kaum Muslimin yang terliterasi bisa menghindari segala perbuatan yang mengandung dosa. Menurut dia, literasi juga bisa mengatasi berbagai kasus, dari mulai hoaks sampai korupsi. "Semua itu tidak akan terjadi kalau memang semua orang sudah benar-benar terliterasi," ujarnya lagi.

Afrizal melanjutkan, IBF merupakan wa dah untuk mencerahkan juga mencerdaskan umat melalui membaca buku. Semakin ba nyak buku yang dibaca, semakin bertambah pula pengetahuan sehingga dapat menghindari kesalahan di masyarakat.

Sastrawan sekaligus budayawan Taufiq Ismail manambahkan, literasi harus terus ditingkatkan agar kasus hoaks yang tengah marak terjadi dapat diatasi. "Jadi, mereka ha rus membaca dengan baik, bersikap dengan baik, serta menghargai pendapat dengan baik. Bukan berbohong berdusta kelihatan hebat betul melakukan empat huruf yakni 'hoax'," ujarnya ketika dihubungi Republika.

Menurut dia, kondisi sekarang sudah sangat kacau. Terlebih, pada tahun politik ini, berita bohong atau hoaks semakin banyak. "Seperti ada kutukan Allah kepada kita sehingga kita dilingkari orang-orang yang berbohong terus-menerus. Saya bingung, saya hanya terus berdoa kepada Allah agar Indonesia diselamatkan," tutur Taufiq.

Lebih lanjut, kata dia, IBF bisa menjadi ajang meningkatkan literasi serta melawan hoaks. Hanya saja, selain itu, Taufiq menilai harus ada sekelompok tokoh yang mengarahkan. "Misalnya, ada satu acara khusus yang dirancang tokoh senior atasi masalah hoaks ini. Hal itu harus dilaksanakan supaya bisa terlihat hasilnya, sebab gelombang kebohongan kini bukan main," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement