Senin 18 Feb 2019 15:44 WIB

Syekh Yusuf al-Makassari, Dakwah di Nusantara dan Afsel (2)

Pernah pula sang pencari ilmu itu pergi ke Makkah dan Madinah

Peserta mengikuti upacara pengibaran bendera di atas kapal Pinisi Bagi Negeri di Perairan Pulau Samalona, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (17/8).
Foto: Antara/Sahrul Manda Tikupadang
Peserta mengikuti upacara pengibaran bendera di atas kapal Pinisi Bagi Negeri di Perairan Pulau Samalona, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (17/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muhammad Yusuf sampai di Banten. Waktu itu, daerah tersebut sedang dipimpin Sultan Abul Mufakhir Abdul Qadir. Raja ini memerintah dengan arif, bijaksana, serta mengedepankan kepentingan Islam.

Gelarnya diperoleh dari Syarif Makkah, yakni Maulana Muhammad. Hal itu menandakan penghormatan dari pusat Dunia Islam. Anak sang raja juga menentang VOC/Belanda, yang saat itu menguasai Batavia (Sunda Kelapa) sejak 1619. Banten kokoh sampai era itu sebagai salah satu pusat keunggulan Islam di Nusantara.

Baca Juga

Setelah beberapa lama menimba ilmu di Banten, Muhammad Yusuf berangkat ke Aceh. Menurut sumber Ensiklopedi Islam, di sana dia bertemu dengan sejumlah intelektual Muslim terkemuka. Di antaranya adalah Syekh Nuruddin ar-Raniri.

Penasihat Kesultanan Aceh itu merupakan seorang sufi besar yang kemudian menganugerahkan kepadanya ijazah tarekat Qadiriyah. Akan tetapi, ada perdebatan tentang di manakah dua orang guru-murid itu bertemu.

Menurut Azyumardi Azra yang dikutip Putuhena dalam Historiografi Haji Indonesia (2007), ar-Raniri terlebih dahulu meninggalkan Aceh ketika Yusuf sedang dalam perjalanan dari Makassar ke Banten.

Artinya, ada kemungkinan Yusuf memeroleh ijazah yang dimaksud kala menemui Syekh ar-Raniri di Gujarat, India, bukan Aceh. Yang pasti, hingga tahun 1649 dia tetap tinggal di Tanah Rencong.

 

Menuju Makkah

Berikutnya, perantauan asal Makassar itu menuju ke Tanah Suci. Dia diduga kuat sempat menyinggahi Sri Lanka dan pantai barat India, sebagaimana lazimnya jalur pelayaran di Samudra Hindia.

Sebelum sampai di Makkah dan Madinah, Muhammad Yusuf menghabiskan waktu untuk belajar tarekat Naqsyabandiyah dan Ba ‘Alawiyah pada ulama-ulama di Hadhramaut (Yaman). Itulah negeri para keturunan Rasulullah SAW.

Di antara guru-gurunya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Baqi al-Naqsyabandi, Sayyid Ali az-Zabidi, dan Syekh Muhammad bin al-Wajih as-Sa’di al-Yamani. Usai dari sana, perjalanannya berlanjut ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Setelah tuntas mengerjakan Rukun Islam kelima, Yusuf bergerak menuju Madinah untuk menggali ilmu-ilmu agama di Masjid Nabawi. Ketertarikannya pada bidang tasawuf tidak pernah luntur.

Terbukti, dia berguru pada Ibrahim al-Kurani, sehingga memeroleh ijazah tarekat Syattariyah. Selain itu, guru-gurunya di Kota Rasulullah SAW itu, antara lain, Ahmad al-Qusyasyi dan Hasan al-‘Ajmi.

Tidak puas semata-mata di Haramain, Yusuf lantas melangkahkan kakinya ke utara. Di Damaskus (Suriah), dia belajar pada Abul Barakat Ayub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalawati al-Qurasyi, sampai mendapatkan ijazah tarekat Khalwatiyah serta gelar Tajulkhalwati Hadiyatullah.

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement