Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Mengenal Hasan al-Bana, Sosok di Balik Ikhwanul Muslimin (3)

Jumat 15 Feb 2019 06:49 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin

Bagi Hasan al-Bana, pendidikan dan dakwah tidak dapat dipisahkan satu sama lain

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasan al-Bana menulis di dalam Memoirs, “Suatu kelompok yang sungguh-sungguh setia kepada Allah (yakni) bahwa seluruh anggota hidup dan mati untuk agama Allah. Mereka berharap tidak kepada apa pun selain berjumpa dengan Allah. Itulah kemenangan yang nyata, sekalipun kelompok itu dalam keadaan lemah dan kecil.”

Kesetiaan kepada ajaran Islam, itulah yang mendorong terbentuknya Ikhwanul Muslimin (IM) pada 1928 di Ismailiyyah, Mesir. Saat mendirikan IM, Hasan al-Bana "masih" berusia 22 tahun. Dia bersama para sahabatnya bersemangat menyongsong perubahan dan ikut menguatkan persatuan di kalangan umat Islam.

Hasan lalu terpilih sebagai ketua dalam kelompok ini. Dia menjadikan IM pada tahap awal untuk meluruskan tujuan, yakni bukan semacam perkumpulan sufistik atau yang berorientasi pada bisnis. Oleh karena itu, Hasan al-Banna memilih tema persaudaraan (ikhwah fillah), sehingga kelompok ini dinamakannya Ikhwanul Muslimin.

Mesir saat itu sudah dipengaruhi unsur-unsur Barat, termasuk Inggris. Untuk menghadapi masuknya pengaruh Barat dalam pendidikan, misalnya, IM menyemarakkan pendidikan islami yang berpusat pada akhlak. Tujuannya agar masyarakat dapat memahami dan mengamalkan hidup seturut dengan ketentuan Islam.

Bagi Hasan al-Bana, pendidikan dan dakwah tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Menurut Gudrun Kramer dalam buku Makers of the Muslim World, Hasan ingin menjadikan IM sebagai medium perjuangan supaya umat Islam mampu mengejar ketertinggalan dalam hal pendidikan. 

Gudrun Kramer menyandingkan upaya IM itu dengan sejumlah inisiatif modernisme Islam di luar Mesir pada paruh awal abad ke-20. Misalnya, di India ada Aligarh yang diinisiasi Sir Syed Ahmad Khan pada 1875. Kemudian, di Indonesia ada Muhammadiyah (berdiri 1912) dan Nahdlatul Ulama (NU; berdiri 1926).

Baca juga: Mengenal Hasan al-Bana, Sosok di Balik Ikhwanul Muslimin (1)

IM berupaya meluaskan pendidikan bukan hanya pada skala masjid-masjid, tetapi juga pada tataran sosial dan politik masyarakat setempat. Selain itu, organisasi ini juga menghubungkan pendidikan dengan geliat perkembangan dunia pers di Mesir dan Timur Tengah umumnya. Tujuannya, memberikan pencerahan dan semangat literasi di tengah masyarakat Muslimin.

Baca juga: Mengenal Hasan al-Bana, Sosok di Balik Ikhwanul Muslimin (2)

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA