Selasa 22 Jan 2019 14:48 WIB

Jejak Islam di Negeri Taiwan

Islam masuk dari Cina daratan.

Umat Muslim beribadah di Masjid Raya Taipei, Taiwan.
Foto: EPA
Umat Muslim beribadah di Masjid Raya Taipei, Taiwan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Islam memang bukan agama mayoritas di Taiwan. Dulu, pertumbuhannya relatif lambat dengan hanya 100 umat baru setiap tahun. Keadaan itu berubah sejak tenaga kerja asing yang beragama Islam, termasuk dari Indonesia (TKI), ‘membanjiri’ Taiwan. 

Pada 2007, terdapat sekitar 53 ribu orang Tionghoa Taiwan yang beragama Islam atau 0,2 persen dari total populasi. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai tentara dan pegawai negeri.

Pada saat yang sama, terdapat lebih dari 80 ribu Muslim Indonesia yang menjadi TKI di Taiwan. Keberadaan TKI dan tenaga-tenaga asing lain yang beragama Islam membuat geliat agama Allah di Taiwan semakin terasa. Masjid-masjid ber munculan. Gerai makanan halal pun kian mudah ditemukan. 

Sebelum masuk ke Taiwan, Islam telah lebih dulu berkembang di Cina daratan. Sebagian di antara mereka kemudian hijrah ke Taiwan pada abad ke-17. Saat itu, seperti dilansir laman islam.org.hk, orang-orang Muslim yang tinggal di Provinsi Fujian, Cina bagian selatan, bergabung dengan pasukan Koxinga (Cheng Cheng-Kung) menyerbu Taiwan untuk mengusir pasukan Belanda yang menduduki pulau itu. 

Usai perang, sebagian pasukan Koxinga – beberapa di antara mereka beragama Islam – memilih menetap di Taiwan. Keturunan mereka kemudian menikah dan berasimilasi dengan masyarakat setempat. Sebagian dari mereka tetap menjadi Muslim, namun sebagian lainnya berpindah agama.

Masuknya Islam ke Taiwan (waktu itu masih bernama Pulau Formosa) memang tak lepas dari sejarah masuknya Islam ke Cina daratan. Islam masuk ke Cina melalui kawasan barat negeri itu. Adalah para pedagang Muslim yang membawa Islam ke Cina pada abad ketujuh Masehi. Di Negeri Tirai Bambu, banyak di antara mereka yang kemudian menikahi wanita setempat.

Perkawinan ini menghasilkan kelompok etnis baru di Cina yang bernama etnis Hui. Itu sebabnya, masyarakat Cina awalnya menyebut agama Islam dengan se butan Huì Jiào yang berarti “agama Hui”. Tapi belakangan, masyarakat setempat terbiasa dengan sebutan Y s lán Jiào atau “agama Islam”. 

Mengenai perkembangan Islam di Taiwan, Prof Lien Ya Tang dalam bukunya, History of Taiwan (1918), menjelaskan, warga Muslim di Taiwan umumnya beragama Islam untuk dirinya sendiri. Mereka tidak aktif berdakwah. Mereka juga tidak membangun masjid di pulau tersebut. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement