REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Masyarakat Muslim di Jepang, adalah mayarakat yang minoritas sehingga kondisinya berbeda dengan masyarakat Muslim di Indonesia. Kadang, masyarakat Muslim di sana dianggap berbeda, terutama bagi perempuan yang menggunakan hijab.
Secretary General of Shizouka Muslim Association, Miwa Essaadi mengatakan, perlu adanya langkah untuk memperdalam pengertian Muslim di Jepang. Terutama kepada generasi muda.
Hal ini dapat dilakukan dengan program pertukaran pelajar antara pelajar Jepang dengan Indonesia. Sehingga, mereka dapat saling memahami dan saling membantu untuk belajar serta memperdalam budaya dan ilmu Islam.
Ia menyebutkan, banyak tantangan yang didapat oleh masyarakat di Jepang dalam merepresentasikan diri sebagai seorang Muslim. Karena Muslim merupakan anggota minoritas, mereka dianggap sebagai masyarakat yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya.
Terlebih, dengan adanya pemberitaan media terkait aksi terorisme yang pelakunya dikatakan seorang Muslim, hal tersebut membuat masyarakat Muslim di Jepang semakin dianggap berbeda. Padahal, hal itu tidak berhubungan dengan masyarakat Muslim Jepang,
"Tantangan terutama coverage media internasional dan ada beberapa peristiwa yang terjadi di dunia internasional. Sebenarnya tidak berhubungan dengan masyarakat Muslim Jepang," kata Miwa dalam seminar Understanding Islamic Youth Activism in Indonesia and Japan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka), Sabtu (15/12).
Ia mengatakan, penting kontribusi dari sesama umat Islam untuk saling membantu dalam memperdalam agama. Baik itu dengan masyarakat yang ada di belahan dunia yang berbeda. "Bagaimana kita bisa melakukan sesuatu, membuat instrumen dan mengetahui isu-isu dunia seperti apa yang terjadi di Palestina," lanjutnya.
Ia menjelaskan, karena Muslim di Jepang merupakan kelompok yang minoritas, masih ada yang pengetahuannya mengenai Islam belum mendalam. Terlebih generasi muda yang baru mulai mempelajari Islam.
Selain itu, tidak semua masyarakat Jepang yang dapat menerima dan mengerti terkait cara beribadah dalam Islam. Ia menyontohkan, dalam menjelaskan arti halal di Jepang, tidak semua masyarakat yang dapat menerimanya.
"Atau saat belajar anda ingin beribadah, bagaimana anda mengertikan orang lain soal itu. Itu yang dirasakan Muslim Jepang saat ini. Bisa anda bayangkan bagaimana mempertahankan Islam, yang masyarakatnya minoritas di Jepang," tambahnya.
Terhadap generasi muda di Jepang pun, pendalaman terkait ilmu agama Islam masih perlu dilakukan. Terlebih, generasi muda saat ini merupakan generasi yang tidak lepas dari penggunan terhadap media sosial.
Media sosial ini, lanjutnya, dapat dimanfaatkan dengan baik, terutama bagi generasi muda. Sebab, media sosial bisa menjadi peluang dan juga kesempatan untuk sesama umat Islam dapat saling terkoneksi satu sama lain. Bahkan itu berbeda negara sekalipun.
"Muslim yang menjadi kelompok minoritas di Jepang, bisa terkoneksi dengan Muslim lainnya dan mendapatkan bantuan dari orang lain. Ini menjadi kesempatan yang bagus, terutama bagi Muslim di Jepang," kata Miwa.
Dia mengatakan, dengan cara ini, pendidikan agama Islam di Jepang pun akan lebih baik. Ia pun berharap dapat memberikan semangat kepada generasi muda Muslim untuk terus belajar agama Islam. Baik itu generasi muda di Jepang maupun di negara lain.
"Saya berharap bisa memberikan kepada generasi muda seminar ini bahwa mereka memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu dan melihat dari perspektif lain," tambahnya.
Sementara itu, Dosen Pascasarjana UIN Suka, Munirul Ikhwan mengatakan, globalisasi memang menyebabkan perkembangan yang pesat. Terutama dalam teknologi informasi, apa lagi saat ini dikenal dengan revolusi industri 4.0.
Ia mengatakan, segala informasi sangat cepat sekali menyebar. Bahkan informasi hoaks sekalipun. "Konsekuensinya, transmisi ide, informasi dan berita di dunia itu tidak bisa dikontrol dan tidak semuanya dapat disaring," kata Ikhwan.
Untuk itu, perlu ditanamkan nilai-nilai Islam kepada generasi muda, khususnya Muslim. Hal ini dapat dilakukan dengan bersinergi dengan seluruh pihak, baik itu pihak universitas dan komunitas-komunitas Islam lainnya.