Ahad 21 Oct 2018 21:59 WIB

Presiden Ajak Santri Pertegas Rasa Persatuan

Indonesia merupakan rumah bagi bermacam-macam agama, suku, adat, dan bahasa.

Didampingi sejumlah santri, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berdialog dengan para santri saat menghadiri malam puncak peringatan Hari Santri Nusantara, di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Ahad (21/10).
Foto: Republika/Edi Yusuf
Didampingi sejumlah santri, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berdialog dengan para santri saat menghadiri malam puncak peringatan Hari Santri Nusantara, di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Ahad (21/10).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, mengajak para santri untuk mempertegas rasa persatuan dan perdamaian di tengah panasnya proses demokrasi. "Tidak pernah dalam ajaran Islam diperbolehkan melakukan fitnah, mencela, menjelekkan. Fitnah saling mencela, menjelekkan muncul menjelang pemilihan bupati, pemilihan wali kota, pemilihan gubernur dan pemilihan presiden," ujar Jokowi dalam sambutan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2018 di Lapang Gasibu, Kota Bandung, Ahad (21/10) malam.

Jokowi menyampaikan, Indonesia merupakan rumah bagi bermacam-macam agama, suku, adat, dan bahasa. Perbedaan ini merupakan anugerah Tuhan yang membuat Indonesia kaya dan saling melengkapi.

Baca Juga

Menurutnya, aset terbesar bangsa Indonesia yakni persatuan dan kerukunan di tengah perbedaan. Untuk itu, ia mengajak agar antarumat beragama untuk menjaga tali silaturahmi dengan tidak saling mencela, dan menjelekkan perbedaan-perbedaan tersebut. "Pada kesempatan yang baik ini saya ingin mengingatkan kepada semua, menyadarkan, bahwa negara kita Indonesia adalah rumah kita sendiri yang perlu terus kita rawat, kita jaga. Siapa yang menjaga? Salah satunya para santri," kata dia.

Ia tidak mempersoalkan masalah perbedaan pandangan apapun termasuk pilihan politik. Bahkan Jokowi mempersilakan untuk memilih siapapun. Namun yang harus dijaga agar tidak mudah percaya terhadap berita bohong yang justru akan memecah belah bangsa.

"Saya titip, jangan mudah percaya pada hoax berita yang ada di media sosial. Kalau sudah menjelang tahun politik banyak sekali berita bohong, fitnah di medsos. Tolong disaring," kata dia.

Ia juga menjelaskan, tiga tahun yang lalu saat menandatangani keputusan presiden tentang hari santri, hal itu merupakan penghormatan dan rasa terimakasih negara kepada alim ulama serta semua unsur yang ada di pesantren. "Sejarah telah mencatat peran besar peran ulama dan santri. Di masa perjuangan kemerdekaan, dalam menjaga Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, santri dan alim ulama selalu memandu ke jalan kebaikan," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement