Selasa 09 Oct 2018 23:51 WIB

Mengenal Seni Ebru

Seni ini berkembang di Dunia Islam

Seni lukis Ebru.
Foto: transturk.com.au
Seni lukis Ebru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Keindahan selalu menarik minat. Demikian pula dengan ebru, seni membuat corak pada kertas. Seni ini juga berkembang di dunia Islam. Banyak para sufi bahkan menggunakan hasil seni sebagai sampul untuk menutup manuskrip atau kitab suci. 

Kata ebru sendiri memiliki arti awan atau mendung. Istilah tersebut berasal dari kata ebre yang termasuk salah satu bahasa Asia Tengah tua. Artinya, kain atau kertas yang digunakan untuk membalut manuskrip maupun kitab suci. 

Seni ini, bisa jadi memiliki akar di Cina. Hal itu terungkap melalui dokumen-dokumen dari Dinasti Tang (618-907), yang menyebutkan tentang proses pewarnaan kertas dengan air dan lima warna. Melalui Jalur Sutra, seni ini pertama kali masuk ke Iran dengan nama ebru.

Selanjutnya, seni ini bergerak menuju ke Anatolia. Sejumlah contoh ebru yang dibuat pada abad ke-15, masih tersimpan di Museum Turki. Namun, hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan kapan seni ini masuk pertama ke Anatolia.

 

Pada akhir abad ke-16, para pedagang, diplomat, dan wisatawan datang ke Anatolia. Saat mereka melihat ebru di Anatolia, mereka menyukainya lalu membawa seni tersebut sebagi suvenir yang dibawanya ke negaranya di Eropa. 

Di Eropa, para pencinta ebru menyebut ebru sebagai Turkish Paper atau Kertas Turki. Beberapa abad berikutnya, saat memasuki zaman modern negara-negara Eropa seperti Italia, Jerman, Prancis, dan Inggris juga mulai mengembangkan seni ini. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement