Selasa 03 Jul 2018 00:32 WIB

WNI di Eropa Diminta Turut Menyebarkan Moderasi Beragama

Saat ini berkembang gerakan transnasional dalam bentuk radikalisme dan ekstrimisme.

Rep: Novita Intan/ Red: Agus Yulianto
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam membuka Chief Executive Officer (CEO) Meeting Forum Kebangkitan Zakat Indonesia Tahun 2018.
Foto: dok. Kemenag.go.id
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam membuka Chief Executive Officer (CEO) Meeting Forum Kebangkitan Zakat Indonesia Tahun 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) mengajak masyarakat Indonesia di Eropa dapat mengembangkan moderasi beragama. Caranya, dengan mengembangkan paradigma humanis dalam beragama.

Ajakan ini disampaikan  Sekjen Kemenag Nur Syam saat membuka Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa yang berlangsung di Vatikan, Italia. Dialog yang diinisiasi Kedutaan Besar Vatikan ini dihadiri perwakilan masyarakat Indonesia yang  tersebar di 22 negara. 

 “Kita harus mengembangkan paradigma humanis di dalam beragama. Yaitu sikap beragama yang moderat dengan indikasi beragama yang santun dan seimbang, santun dalam menjalankan agamanya dan dalam interaksi sosial,” ujarnya dalam keterangan tulis yang diterima Republika.co.id, Senin (2/7).

Menurut Nur Syam, saat ini sedang berkembang gerakan transnasional dalam bentuk radikalisme dan ekstrimisme. Gerakan ini sangat mengganggu kerukunan dan harmoni antarumat beragama. Gerakan ini juga berkembang di Indonesia. 

“Seimbang di dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, individual dan sosial, serta dalam berhubungan dengan Tuhan, manusia dan lingkungan alam,” sambungnya. 

Masyarakat yang moderat, lanjut Nur Syam, diharapkan tidak mudah terhasut, marah, serta menuduh atau memaksa. Agama harus dijadikan sebagai modal sosial untuk membangun kehidupan yang rukun, harmoni, dan damai.

Nur Syam menilai, gerakan moderasi beragama harus digalakkan. Yaitu membangun kehidupan beragama yang mengayuh di antara dua ekstremisme, kiri dan kanan. Yang kiri, yang sangat liberal dan yang kanan yang sangat radikal harus dikembalikan ke tengah menjadi moderat. 

“Kementerian Agama telah mengembangkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di seluruh Indonesia. Sebuah forum yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk saling berdialog dalam kerangka membangun kerukunan dan keharmonisan dalam beragama,” tuturnya.

“Jika kita menghadapi konflik antar umat beragama, maka forum ini yang diharapkan dapat menjadi tempat untuk saling bertukar pikiran untuk menyelesaikannya,” lanjutnya. 

Nur Syam mengapresiasi dan mendukung inisiatif Kedutaan Besar Vatikan menggelar forum dialog antar umat beragama. Menurutnya, hal itu penting  untuk membangun kebersamaan dalam membina keharmonisan dan kerukunan beragama.

“Sungguh diperlukan langkah-langkah kultural untuk membangun perdamaian antar warga bangsa, antar masyarakat dan juga bahkan antar bangsa. Indonesia sungguh bisa menjadi contoh yang baik dalam membangun kerukunan umat beragama,” tandasnya.

Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa ini dibuka Duta Besar untuk Tahta Suci Vatican, Antonius Agus Sriyono. Menurutnya, dialog ini bertujuan untuk membangun sikap saling memahami tentang hubungan antar agama di Indonesia. Forum ini menghadirkan narasumber dari berbagai agama,  Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. 

Hal senada disampaikan Dewi Sawitri Wahab, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri. Menurutnya,  program Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa ini sangat tepat dan strategis.

“Program ini sangat relevan dengan kebijakan pemerintah untuk terus menggerakkan dialog antar umat beragama. Ini sejalan dengan program untuk membangun beragama yang moderat, misalnya Islam wasathiyah untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin,” tuturnya. 

Dewi Sawitri berharap diaspora Indonesia di Eropa juga terlibat dalam membangun kehidupan beragama yang moderat, anti kekerasan dan membangun kedamaian. Para diaspora juga diharapkan terlibat dalam menjaga keharmonisan antar agama dan antar bangsa. Apalagi, dinamika politik diperkirakan akan meningkat seiring dengan hajat pemilihan presiden pada tahun 2019. 

“Pertemuan ini menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia, utamanya dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement