Senin 25 Jun 2018 17:31 WIB

Khutbah Jumat yang Menyejukkan Evans

Ia terkagum-kagum pada penjelasan Alquran tentang para nabi.

Khotbah Jumat (ilustrasi)
Foto: alislam.org
Khotbah Jumat (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA --  “Aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku di South Carolina (AS),” kata Evans mengawali cerita. Malam itu, 6 Februari 2009, ia diundang untuk berbicara di Masjid Omar Al Farouk, California. Ibunya meninggalkan rumah sejak Evans masih kecil, sedangkan ayahnya tinggal jauh darinya untuk bekerja. “Di rumah hanya ada aku dan dua orang penganut Kristen yang sangat konservatif (kakek dan nenek).”

Konservatisme, menurut Evans, tak menyulitkan kedua orang terdekatnya itu untuk membentuknya. Sejak kecil, Evans telah terbiasa datang ke gereja pada Ahad pagi dan malam, ditambah Rabu. “Dan, dalam Kristen, orang-orang seperti kami termasuk golongan sangat religius,” katanya.

Keimanan Evans makin “aman” ketika akhirnya ia melanjutkan ke sekolah tinggi yang disebutnya “sekolah Kristen paling konservatif” di South Carolina, Bob Jones University. Di kampusnya, laki-laki dan perempuan harus mengenakan pakaian tertutup, dilarang berduaan dengan lawan jenis, dan tak ada pesta.

Di kampus itu, Evans berkawan akrab dengan seorang pendeta muda yang kritis dan begitu ingin tahu banyak hal tentang Injil. “Karena kami tahu, Injil memiliki banyak versi,” katanya. Maka, suatu hari sang kawan mengajukan sebuah pertanyaan ringan yang tak pernah diduga Evans, “Apakah kamu pernah membaca Injil?”

Evans terdiam sejenak, lalu menjawab bahwa tentu ia pernah membacanya saat di gereja ketika pastor menyuruh jemaat membaca ayat tertentu. Sang teman lalu mengajak Evans membacanya seperti membaca buku, dari bagian awal hingga akhir. “Jika Tuhan bisa berbicara dengan pastor melalui Injil, seharusnya dengan kita pun bisa,” Evans menirukan ucapan temannya.

“Itu ide yang sangat bagus dan kami mulai membacanya,” kata Evans yang memulainya dengan membaca Kitab Perjanjian Lama. Di kitab itu, ia menemukan kisah-kisah nabi seperti pernah didengarkannya di sekolah Minggu. Namun, ia segera dikejutkan oleh beberapa bagian kisah yang justru menenggelamkan kemuliaan para utusan Tuhan tersebut, seperti menggambarkan nabi tertentu sebagai pencandu alkohol.

“Para nabi seharusnya adalah orang-orang mulia yang mampu menjadi teladan bagi umatnya,” Evans berontak. Merasa ada yang salah dengan kitabnya, ia mendatangi beberapa pastor. Dia kembali kecewa dengan jawaban para pastor itu.

“Dengan jawaban yang sama dan normatif, mereka menasihatiku untuk tidak membiarkan ilmu pengetahuan meruntuhkan keimananku,” kata Evans. Ia juga diminta membaca Kitab Perjanjian Baru.

Tuhan itu satu

Meski tanpa penjelasan memuaskan, Evans menggarisbawahi satu pesan utama dari Kitab Perjanjian Lama yang baru ditamatkannya. “Tuhan itu satu dan Ia adalah Zat yang unik. Ia selalu iri soal pemujaan. Jika ada yang menyembah selain diri-Nya, Tuhan memberinya hukuman.”

Evans mulai membaca Kitab Perjanjian Baru. Kali ini pertanyaan yang mengelilingi otaknya adalah mengenai mereka yang namanya disebutkan dalam Injil: Matthew (Matius), Luke (Lukas), John (Yohanes), dan Mark (Markus). Tak hanya itu, ia mulai mendalami ajaran Yesus melalui ucapan-ucapannya di dalam Injil. “Aku menangkap pesan yang sama (dengan yang ada di dalam Kitab Perjanjian Lama), Tuhan hanya satu,” katanya.

Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggunya dan memberinya sebuah keputusan. “Kutinggalkan Kristen.”

Baginya, tak perlu ada yang berdiri di antara dia dan Tuhan. "Ketika aku ingin meminta sesuatu dari-Nya, aku hanya perlu datang kepada-Nya,” kata Evans. Ia pun mulai mencari agama dengan mempelajari Yahudi, Buddha, Hindu, Tao, dan banyak lainnya.

Kagumi Sujud dan Rukuk

Sejauh itu, Evans belum mengenal Islam. Bahkan, perkenalan pertamanya dengan Islam tak berlangsung baik. Saat melihat-lihat rak buku agama di kampusnya, Evans menemukan sebuah buku tentang Islam. Belakangan, ia baru tahu bahwa buku itu hanya berisi propaganda negatif tentang Islam.

“Ia menyebutkan banyak hal buruk, salah satunya adalah bahwa Islam membolehkan Muslim membunuh orang-orang non-Muslim, kapan pun dan di mana pun.”

Evans kembali bertemu Islam saat ia mengenal seorang Amerika-Afrika. Ketika Evans bertandang ke rumahnya, mereka berdebat tentang agama. Saat itulah Evans tahu bahwa ia berdiskusi dengan seorang Muslim. Diajaknya Evans ke masjid.

Di masjid, Evans mendengarkan khutbah Jumat yang berbicara tentang pengampunan Allah. “Belakangan aku tahu, segalanya sengaja dipersiapkan bagiku. Temanku telah memberi tahu sang imam tentang kedatanganku,” ujarnya disambut tawa orang-orang yang menyimak ceritanya.

Terlepas dari itu, Evans tertarik dengan materi khutbah yang baru didengarkannya. Saat menyaksikan para Muslim melakukan gerakan rukuk dan sujud, Evans tak mampu menutupi kekagumannya. “Itu lebih dari berdoa. Itu adalah menyembah, penuhanan yang sesungguhnya,” kata Evans.

Setelah shalat Jumat usai, Evans menghampiri sang imam dan bertanya, “Apakah kalian (Muslim) mempunyai sebuah kitab?”

Evans membaca kitab dari sang imam, surah demi surah. “Aku tahu nama-nama ini, Ibrahim, Musa, Daud, Zakariya, Musa. Tapi, ada yang berbeda tentang mereka dalam kitab ini,” teriaknya dalam hati. Alquran menggambarkan dan mengisahkan mereka sebagai orang-orang mulia yang harus diteladani umatnya.

Membaca kisah-kisah tentang Yesus, Evans makin kagum. Menurut dia, Injil tak menjelaskan bagaimana Maryam menghadapi tuduhan yang ditujukan padanya, bagaimana Yesus yang masih bayi berbicara untuk membela ibunya. “Ini kisah yang sangat indah. Siapa pun pengikut kitab ini, aku ingin menjadi seperti mereka,” kata Evans.

Jumat berikutnya, Evans kembali mendatangi masjid tempatnya mendengarkan khutbah. “Bukan untuk menanyakan apakah mereka punya kitab yang lain,” katanya. “Aku datang untuk menerima Islam dan bersyahadat.”

“Desember 1998. Aku masih mengingatnya,” ujar Evans tersenyum.

sumber : Oase Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement