Ahad 03 Jun 2018 11:37 WIB

Pendidikan Bela Diri Jadi Bagian Tradisi Pesantren

Ilmu pencak silat diajarkan kepada santri untuk membela diri.

Rep: Muhyiddin/ Red: Didi Purwadi
Pencak Silat (ilustrasi)
Foto: Antara/Syaiful Arif
Pencak Silat (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Pd-Pontren) Kementerian Agama (Kemenag), Ahmad Zayadi, mengakui beberapa pesantren di Indonesia tidak hanya mengajarkan para santrinya memperdalam ilmu agama (tafaqquh fiddin). Mereka juga membekali para santrinya dengan ilmu beladiri atau yang biasa disebut olah kanuragan.

''Inilah salah satu kekhasan dari tradisi pesantren yang jarang ditemui pada lembaga pendidikan lainnya," ujar Zayadi seperti dikutip dari laman resmi Kemenag, Ahad (3/6).

Zayadi mengomentari santri Pondok Pesantren Darul Ulum Pamekasan Madura, Muhammad Irfan Bahri (19), yang beberapa waktu lalu berhasil menaklukkan begal di jembatan Summarecon Bekasi, Jawa Barat, Rabu (23/5) lalu. Ia mengapresiasi aksi santri asal Madura tersebut.

Menurut Zayadi, pembekalan ilmu beladiri semacam pencak silat merupakan bagian dari tradisi dan budaya pesantren. Ilmu tersebut diajarkan kepada santri untuk membela diri.

Tekniknya menggabungkan antara keterampilan gerakan, konsentrasi pikiran dan olah intuisi/bathiniyah. Hal ini dimaksudkan untuk membekali santri saat mereka terjun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang problematikanya lebih kompleks.

Seperti diberitakan Republika.co.id, sesaat sebelum dibegal, Irfan jalan-jalan bersama dengan sepupunya yakni AR. Awalnya ke alun-alun Kota Bekasi kemudian jalan-jalan ke daerah Summarecon. Tiba-tiba, dua orang tak dikenal menghampiri.

Pelaku meminta Irfan dan AR menyerahkan telepon genggam mereka. AR terpaksa memberikan, tapi Irfan melawan karena melihat celurit yang dibawa pelaku dibungkus sarung.

Duel tak dapat dihindarkan. Irfan berhasil merebut celurit yang dibawa pelaku. Irfan menghajar dua pelaku.

Satu di antaranya, Aric, tewas karena mengalami luka bacok di perut, pinggang, dan leher. Sedangkan IY selamat, meskipun mengalami luka bacok. "Kalau tidak melawan, saya yang mati," kata Irfan di Polres Metro Bekasi, Kamis (31/5).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement