Jumat 20 Apr 2018 20:11 WIB

RZ Siap Salurkan Bantuan Pembaca Republika ke Pengungsi

Bantuan ini adalah wujud kepedulian Republika dan pembacanya terhadap isu kemanusian.

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Agus Yulianto
Dirut Republika Media Mandiri Agoosh Yoosran menyerahkan sumbangan pembaca Republika untuk Rohingya kepada Corporate Secretary Rumah Zakat Branata (kiri) di Kantor Republika, Jakarta, Jumat (20/4).
Foto: Republika/Prayogi
Dirut Republika Media Mandiri Agoosh Yoosran menyerahkan sumbangan pembaca Republika untuk Rohingya kepada Corporate Secretary Rumah Zakat Branata (kiri) di Kantor Republika, Jakarta, Jumat (20/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Republika menyalurkan bantuan untuk pengungsi Rohingya kepada lima lembaga filantropi, yaitu Baznas, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Aksi Cepat Tanggap, dan Mer-C ,sebesar Rp 1.197.000.000. Bantuan tersebut berasal dari donasi para pembaca Republika yang dibuka selama enam bulan.

 

Corporate Secretary Rumah Zakat, Branata, menyampaikan terima kasih karena lembaganya diberikan kepercayaan menyalurkan bantuan untuk Rohingya dari pembaca Republika. Dia menganggap ini sebagai kepercayaan yang sangat penting.

 

"Insya Allah akan kami sampaikan kepada Rohingya," ujar Branata saat acara penyerahan di kantor Republika, Jakarta, Jumat (20/4).

 

Menurut Branata, bantuan ini adalah wujud kepedulian Republika dan para pembacanya terhadap isu-isu kemanusiaan. Donasi ini merupakan contoh besar kepedulian tersebut.

 

Dia berharap Republika terus konsisten peduli terhadap kemanusiaan. Rumah Zakat, katanya, sudah menyiapkan pola distribusi dari bantuan ini.

 

Branata mengatakan, pada 2018, rumah zakat akan lebih banyak memberikan bantuan dalam bentuk sembako kepada etnis Rohingya. Pasalnya, hal tersebut merupakan kebutuhan pokok sehari-hari.

 

Kendati demikian, Rumah Zakat juga membantu hal lainnya, seperti pembangunan tiga masjid, tiga madrasan, dan penerangan. Ia pun menggambarkan kondisi terkini pada pengungsi. Menurut dia, mereka masih merasa khawatir terkait keamanan jika harus kembali ke Myanmar. Sebab, tidak ada jaminan keamanan dari Pemerintah Myanmar apabila mereka kembali.

 

"Kita berharap dengan upaya konsisten kita harapkan mudah-mudahan bisa lebih banyak meringankan beban mereka," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement