Ahad 15 Apr 2018 07:00 WIB

Al-Washliyah tak Gentar Melawan Komunisme

Kader al-Washliyah terus menjaga dan meneruskan semangat para pendahulu.

Rep: Erdy Nasrullah/ Red: Agus Yulianto
Ketua Umum PB Al Washliyah -Yusnar Yusuf
Foto: Republika/Iman Firmansyah
Ketua Umum PB Al Washliyah -Yusnar Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, Organisasi Islam selalu berperan dalam pendidikan generasi penerus bangsa. Sekolahnya tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Organisasi al-Washliyah, misalkan, memiliki 700 sekolah mulai pendidikan anak usia dini (paud) hingga perguruan tinggi. Belum lagi panti asuhan yang didirikannya sejak 1936 lalu yang banyak melahirkan generasi pendakwah dan ilmuwan.

Tak seperti ormas Islam lain yang banyak tampil ke permukaan, al-Washliyah tak sering menghiasi pemberitaan berbagai media massa. Namun, organisasi ini bergerak masif dalam dakwah dan pendidikan. Kadernya yang sekolah di dalam dan luar negeri bersemangat mengabdikan dirinya memajukan lembaga pendidikan dan mengajarkan Islam kepada generasi muda.

Bahkan sejak negeri ini belum lahir, al-Washliyah sudah berkontribusi menggerakkan anak bangsa melawan penjajahan dan paham yang mengancam kedaulatan bangsa. Namun demikian, ada saja orang yang tak mengetahui organisasi tersebut. Bahkan, yang lebih menyakitkan lagi adalah pernyataan petinggi negara dalam potongan video menyatakan, organisasi selain NU dan Muhammadiyah merontokkan negara.

photo
Mahasiswa baru Universitas Al Washliyah Medan

 

Potongan video itu menimbulkan polemik, menyebar ke banyak pengguna media sosial. Ketua Umum al-Washliyah Dr Yusnar Said Rangkuti mendapat telepon dari pejabat yang membuat pernyataan tersebut. Dalam perbincangan telepon, Dr Yusnar diberitahukan, bahwa tak ada maksud mendegradasikan ormas Islam tertentu, seperti yang dipimpinnya.

Ketum al-Washliyah juga sering dimintakan pendapat dan menghadiri perhelatan kenegaraan di Istana Negara. Selain sebagai pimpinan organisasi tersebut, Dr Yusnar juga hadir sebagai salah satu ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat.

"Masyarakat negeri ini memiliki semangat melawan penjajahan dan paham yang bertentangan dengan kearifan lokal. Penggerak dan yang menguatkan semangat itu adalah ormas Islam. Ormas ini adalah benteng dan batang tumbuh Indonesia," katanya, beberapa waktu lalu saat bersilatirahim dengan Republika.

Dikatakan Yusnar, sejarah mencatat bahwa Islam adalah penggerak sosial sehingga lahirlah kemederkaan, kemajuan, dan persatuan. Ini sudah berlangsung sejak Demak, Mataram, hingga saat ini. Umat Islam selalu tumbuh sebagai kekuatan yang disegani.

Bahkan pada abad ke-20, para pendahulu kita memiliki Sarekat Islam (SI) yang berdiri pada 1901. Kemudian, Muhammadiyah berdiri pada 1912. Ormas Islam lainnya tumbuh dan berkembang: ada al-Irsyad, Nahdlatul Ulama, dan al-Washliyah. Al-Washliyah lahir pada 1930.

"Pendiri kami dan ulama besar bangsa ini sama-sama belajar ke al-Haram. Di sana, pendiri kami bertemu dengan Ulama Jawi, menimba ilmu dari mereka, dan kembali ke Tanah Air. Salah satunya adalah Hasan Maksum yang dikenal sebagai mufti Kesultanan Deli Serdang di Sumatra Utara. Dia dikenal sebagai alim yang menjadi rujukan masyarakat luas," ungkapnya.

Yusnar menyebutkan, ketika itu, situasi bangsa ini penuh pergolakan. Perlawanan terhadap para penjajah terus dilakukan. Pemerintah kolonial ketika itu mendirikan sekolah yang khusus untuk masyarakat mereka. Sedangkan, umat Islam tidak diperkenankan mengenyam pendidikan di sana. Diskriminasi pendidikan begitu terasa.

"Situasi ini tak bisa dibiarkan, harus dilawan. Ketika itu, al-Washliyah membangun madrasah di Tapanuli Selatan sebagai tempat anak-anak Muslim menuntut ilmu. Di dalamnya anak-anak mendapatkan pelajaran agama Islam. Ada tokoh pergerakan dari kami, seperti Ismail Banda. Masyarakat Mandailing, ketika itu, sangat bersemangat menggerakkan dan menghidupkan madrasah,"  ujarnya.

Situasi pergolakan dan perlawanan menyatukan semangat dan tekad al-Washliyah untuk membangun generasi penerus bangsa dalam jalur pendidikan. Tujuannya, bukan hanya untuk kondisi saat itu, tapi dua, tiga, bahkan sepuluh dekade mendatang. Mereka yang tamat dari sekolah al-Washliyah kerap akan mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Yang kita ajarakan adalah ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kami mengarahkan anak-anak memahami Islam marhamah, yang penuh kasih sayang. Kelak setelah tamat sekolah, mereka akan menjalankan dua fungsi: himayatul ummah (melindungi umat) dan himayatud daulah (melindungi negara). Dua fungsi ini merupakan ijtihad kami dalam menafsirkan maqashidus syariah: hifzud din (menjaga agama), hifzun nafs (menjaga jiwa) hifzun nasl (menjaga keturunan), dan hifzul mal (menjaga harta)," ujarnya.

Tantangan selain penjajahan

Dalam situasi perlawanan (penjajahan, red) tadi, al-Washliyah juga berhadapan dengan komunisme. Paham ini, menurut Yusnar, begitu kuat berkembang yang dibawa oleh orang-orang Belanda. "Kami dengan tegas menyatakan perlawanan terhadap komunisme yang membahayakan kelangsungan bangsa ini. Akidah Islam diinjak-injak oleh paham ini. Agama dianggap sebagai ancaman. Ini tak diterima karena masyarakat kita sejak dulu selalu berpedoman kepada Islam," ucap dia.

Dikatakannya, al-Washliyah juga berdakwah ke masyarakat, menyiarkan Islam sebagai pandangan hidup, melawan komunisme yang mencoba meracuni sendi-sendi kebangsaan. Tokoh al-Washliyah, Yusuf Ahmad Lubis, ketika itu begitu getol menyuarakan kritikan dan kecaman terhadap komunisme. "Gagasan dan pemikirannya masih kami simpan. Ini artinya kami adalah kelompok awal yang melawan komunisme di Sumatra. Al-Washliyah tak gentar melawan komunisme," tegas Yusnar.

Untuk itu, pihaknya senantiasa menjaga agar kader al-Washliyah terus menjaga dan meneruskan semangat para pendahulu. Mereka dulu aktif mengabdi dalam dunia pendidikan. Setelah menjalani pendidikan di Timur Tengah, mereka kembali ke Tanah Air, mengajar di panti asuhan, dan berbagai lembaga pendidikan yang kami dirikan.

"Tentu banyak kader-kader kami atau alumni sekolah al-Washliyah di masyarakat. Salah satu contohnya adalah Ustaz Abdul Somad. Dakwahnya menjadi rujukan masyarakat dari berbagai kalangan," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement