Rabu 28 Mar 2018 11:12 WIB

Peradaban Islam Rintis Pencarian Energi Alternatif

Peradaban Islam pada era kekhalifahan telah berupaya mengembangkan air dan angin.

Senja Terakhir di Kairo (ilustrasi)
Senja Terakhir di Kairo (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pencarian energi alternatif ternyata tak hanya dilakukan peradaban manusia modern. Energi selalu menarik perhatian manusia dari masa ke masa. Peradaban Islam pada era kekhalifahan telah berupaya mengembangkan air dan angin sebagai energi. Semua itu tak lepas dari upaya para insinyur Muslim yang berhasil menemukan beragam tipe mesin dan alat-alat pintar (ingenious devices).

Sejatinya, peradaban pra-Islam juga telah mulai memanfaatkan air dan angin sebagai energi. ‘’Upaya ini mencapai puncaknya di masa peradaban Islam,’‘ ungkap Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam karyanya bertajuk "Islamic Technology:An Illustrated History". Tak heran, jika kincir air dan angin pun tumbuh pesat di dunia Muslim dan menjadi bagian integral dari kebudayaan Islam.

Fakta bahwa energi air dan angin menjadi bagian penting masyarakat Islam dapat ditemukan pada beberapa manuskrip (naskah) serta buku tentang alat-alat pintar dan mesin-mesin otomatis. Salah satunya karya Banu Mu sa bersaudara dan al-Jazari. Banu Musa menuliskan hal tersebut pada abad ke-3 H/9 M, sedangkan al-Jazari pada abad ke-6 H/12 M. Keduanya membuktikan bahwa Islam telah menggenggam dan menguasai kedua energi penting tersebut.

Tak hanya itu, al-Hassan dan Hill juga menemukan ada sejumlah karya ilmuwan lainnya berupa risalah tentang permesinan antara periode keduanya. Salah satu contohnya risalah karya al-Muradi pada abad ke-5 H/ke-11 M. “Kami mengharapkan risalah tersebut dapat memberikan kejelasan jika versi lengkapnya ditemukan. Dalam hal ini, kami mempunyai satu bab mengenai kincir air yang ditemukan pada delapan manuskrip,” ujar kedua sejarawan sains itu.

sumber : Islam Digest Republia
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement