Selasa 06 Feb 2018 16:04 WIB

Menyelamatkan Manuskrip Timbuktu

Para ahli telah mengonfirmasi sekitar 300 ribu teks yang ada di Timbuktu selamat.

Rep: Ani Nursalikah/ Red: Agung Sasongko
Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).
Foto: nfvf.co.za
Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Setelah pasukan tentara yang dipimpin Prancis berhasil merebut kembali kota di utara Mali, Wali Kota Halle Ousmane Cissé membuat pengumuman yang mengejutkan, pasukan pemberontak Ansar Dine telah membakar sejumlah gedung. Akibatnya, ribuan manuskrip berharga yang disimpan di dalamnya telah menjadi tumpukan abu.

“Bagi para pemberontak, hanya Alquran yang dianggap berharga. Yang lainnya, tidak berarti apa-apa,” kata sejarawan dan arkeolog Abdullahi Cisse kepada wartawan, Rabu (30/1) lalu. Tapi, masyarakat dunia bisa bernapas lega sebab para ahli telah mengonfirmasi sekitar 300 ribu teks yang ada di Timbuktu selamat.

Meski demikian, sekitar 2.000 manuskrip diperkirakan musnah akibat kebakaran di pusat riset dan konservasi teks milik pemerintah Ahmed Baba Institute. “Naskah-naskah tersebut berada di tempat aman. Saya menjamin, naskah itu dilindungi dengan keamanan penuh,” kata pembantu Presiden Urusan Islam Mahmoud Zouber.

Jika Afghanistan menyelamatkan harta Bactrian dari kehancuran akibat serangan Taliban dengan menyembunyikannya di dalam lemari besi di bawah istana presiden di Kabul, Mali menyelamatkan manuskrip Timbuktu dengan menyimpannya di lokasi yang aman dan tersembunyi. Sejumlah manuskrip masih berada di Ahmed Baba Institute.

Sesaat setelah pasukan militan menguasai Timbuktu, operasi penyelamatan besar-besaran dimulai. Dalam operasi tersebut, masyarakat menyembunyikan naskah kuno itu di kota dan wilayah sekitarnya. Pasukan pemberontak menduduki Timbuktu selama 10 bulan.

Masyarakat di Timbuktu mempunyai sejarah panjang dengan manuskrip tersebut. Mereka menyembunyikan naskah itu di gurun dan menguburnya hingga keadaan aman. Faktanya, ini bukan kali pertama manuskrip menghadapi ancaman serius.

Naskah-naskah kuno itu selamat dari  invasi Maroko di Timbuktu pada 1591 karena disembunyikan di batang pohon atau dikubur di dinding masjid yang terbuat dari lumpur. Saat itu, Maroko membunuh atau mendeportasi para cendikiawan dan melarang peredaran teks.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement